Homeless Day 1: It Is a Good Day to be Homeless

As you guys might already know, I am quitting my company. Yes, yesterday was my last day at work and today I am officially jobless, homeless, and also loveless (Okay, the last part has nothing to do with the story, so, moving on). Unfortunately, thanks to the crazy workload, my department didn’t allow me to take days off to ‘properly’ vacate my room at the company dormitory. So, yesterday, right after I left the office, which is around 11PM (Yes, what a lovely unforgettable last day at work), I am clueless as for what to do with my own life. Most of my stuff is still at the dorm, stashed illegally at Alvi’s room and all I have with me is the effing heavy safety shoes that I have to bring home and my brand new PS Vita that I bought because I am a sucker for Digimon and the new Digimon Next Order game is awesome. Yes, currently I have MetalGreymon named Terra as my partner and I really cant wait to see him evolve to the bad ass WarGreymon. Yes, and here is a picture of my very own Terra (I am a proud mother).

Okay, enough with the Digimon thing, focus, Stepen, focus.

Where was I?

Oh yeah, leaving the office yesterday.

So, it was 11PM and the last train was already gone and I didn’t have any choice but to walk home, carrying my heavy safety shoes with me. While I was walking, a lot of things crossed my mind. Some were heavy things like the world peace and what should I name my next Digimon. Others were simpler stuff like how Daniel would look in a skirt and why did he dumped me for a girl named Sunny which is also the name of a girl that Reza dumped me for. But then I remember that I have nowhere to stay for the night and as a girl trapped in man’s body, it is dangerous to stay out late. So, while walking and enjoying a piece of famichikin from family mart, I brainwashed about what to do to survive the night.

The first thing that comes into my mind was staying at McDonalds. Yes, order a fries and eat them really slow, and by slow, I mean like one fries for every 30minutes. Assuming one small bag of fries is 300gr in weight and one fries is weighted around 1.5gr (ref: International Code Book of Meal Engineering), one fries will take you 300gr / 1.5gr x 30min = 10hours. This way, you can stay the night at MacDonalds and have some fries left over when you wake up for your breakfast. Killing two birds with one stone, baby! Damn, I am genius, said me to myself.

But then, staying in MacDonalds was probably not a good idea as police may come every now and then to sweep some jobless homeless freeloader trying to make a free stay. Besides, eating fries is not good for my abs, which is almost six pack if you imagine it six pack. So, I decided to ditch that great idea and look for and internet cafe to spend the night.

So long story short, I found an internet cafe around Tsurumi, took the night pack which is 1500yen for 6hours, stayed the night there, and then woke up at 6AM in the morning cause my night pack only last until 6.20 and I am too cheap to spent another yen to extend my stay. Yes, I am jobless yet I woke up earlier then when I have a job. Oh, the irony… But then, it is good to be awake this early in the morning, watching the sakura (almost?) bloom and enjoying the morning breeze. Hell, it was a good day to be homeless! Now I am so excited to do the great random adventure around Japan not as a lowly salaryman. But first, gotta make a quick stop at my old dorm to pick up my things. Osh!!!

Stepen – officially homeless

Posted in English Post, Personal Blog | Leave a comment

Cerita Mudik Ep. 2: Cerita Tivi Part 1

Oke, bagi kalian pembaca setia blog gw (maksud gw, elo, Ja, iya, elo, siapa lagi?), kalian mungkin bingung kok cerita mudik episode 2-nya tentang teve, padahal Cerita Mudik Ep. 1: Cerita Kulkas Part 1-nya tentang kulkas? Well, yah, alasannya simple, karena sampe saat ini gw belon sempet nelpon recycle center tentang cara ngebuang kulkas yang baik dan benar, jadi yawdalah, biar ga mubajir waktu dan pikiran gw, bolehlah gw nulis tentang tivi dulu, secara cerita ini lagi hot2nya.

Cerita tentang tivi ini berawal dari kurang lebih 1-2bulanan yang lalu. Waktu itu, gw dan Alvi diundang Reja untuk bersilahturahmi (baca: makan gratis) ke rumah baru doi. Waktu itu, Melon (Yes, ini bukan nama samaran tapi ini nama asli orangnya. Doi lebih suka dipanggi Fab yang adalah kependekan dari Fabolous, tapi nama asli doi adalah Melon. Ga percaya? Oke, berikut gw lampirkan KTP beliau dengan muka yang disensor demi kenyamanan pribadi) juga diundang ke acara silahturahmi gede-gedean ini dan doi pun memutuskan untuk pamer maenan baru doi: Wii-U. Alhasil, di hari silahturahmi itu, Melon dateng dengan membawa Wii-U-nya.

KTP Melon, dengan modifikasi seperlunya demi keamanan identitas ybs.

Reja, yang selama ini cuman maen Neko Atsume aj senengnya ud jumpalitan, pun welcome2 aj Melon bawa Wii-U-nya dan akhirnya maenan tersebut pun dipasang di ruang tamu doi dan semua bermain dengan gembira. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya gw dan Alvi dateng dan tibalah giliran gw buat maen (baca: membuktikan status gw sebagai seorang hardcore gamer di depan anak2 bau kencur kemarin sore pagi ini siang malem).

Gw pun maen dan gw kalah, yes, gw yang seorang hardcore gamer ini dikalahkan anak2 bau kencur kemarin sore pagi ini siang malem. Namun gw selaku hardcore gamer lantas ga tinggal diam begitu saja. Gw pun mojok dan merenung dan mencoba untuk mengevaluasi dan mencari sebab penyebab kekalahan gw dari anak2 bau kencur kemaren sore pagi ini siang malem (cape yah ngetik ini terus2an). Setelah riset yang panjang dengan kurang lebih 5paper terbit di jurnal internasional dengan impact factor di atas 3, gw pun mendapat kesimpulannya: gw kalah karena ukuran TV Reja kekecilan.

Yes, gw butuh tivi yang lebih besar untuk bisa memproses informasi karena luas penampang bukaan indera penglihatan gw di bawah rata2 (bahasa ilmiahnya: sipit). Ukuran TV Reja saat itu tidak memenuhi standar SNI untuk permainan macem Wii-U yang mana layar TVnya dibagi 4 sama panjang sama rata sama rasa karena yg maen 4 orang. Alhasil, gw yang mendapat handicap ini pun harus menelan kekalahan dari anak2 bau kencur kemaren sore pagi ini siang malem.

Okeh, begitulah scientific excuse gw.

Walaupun begitu, pengkritik yang baik adalah orang yang tidak hanya mengkritik, tapi juga memberikan solusi. Jadi, gw pun menawarkan solusi untuk mengatasi TV Reja yang kekecilan ini: menawarkan TV gw untuk dihibahkan ke Reja. Sekalian ngebantu temen, sekalian juga ngosongin kamar secara gw mau keluar dari dorm. Genius, gw memuji diri gw sendiri. Sayangnya gw lupa satu hal yang sangat penting: ukuran tivi gw TIDAK lebih besar dari ukuran tivi Reja. Yang lebih odongnya, Reja yang notabenenya juga sering ke kamar gw dan tentunya ngeliat TV gw juga ga sadar kalo tivi gw TIDAK lebih besar dari tivi Reja. Maklum, banyaknya jam lembur telah mengikis sel-sel otak kita berdua.

Alhasil, beberapa minggu kemudian setelah silahturahmi tersebut, gantian Reja yang dateng ke dorm gw buat ngambil tivi dan di saat itulah Reja dan gw sadar kalo tivi gw TIDAK lebih besar dari tivi Reja. Alhasil, Reja pun lemas letih lesu dan memutuskan untuk menolak tivi gratis dari gw karena ukurannya yang tidak seberapa. Tragis, mau ngasih barang gratis aj ditolak, apalagi nyari pacar (curcol).

Eniwei, dengan penolakan ini, gw pun harus mencari alternatif tumbal yang mau gw kasihin tivi gw ini dan setelah promosi dan pasang iklan sana sini, akhirnya gw memutuskan buat menghibahkan tivi gw ke Dea, seorang wanita muda berparas kuda yang suka meluda dan menggoda duda (asek ga pantun gw). Tapi again, cerita transaksi serah terima tivi dengan Dea harus gw ceritakan di episode berikutnya karena hingga episode ini diturunkan, serah terima belum dilakukan karena doi sibuk ngegym dan gw sekarang harus badminton demi kebugaran jasmani (baca: ga punya rencana jalan2 di long weekend yang indah ini).

Stepen – Hardcore Gamer

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog | Leave a comment

Cerita Mudik Ep. 1: Cerita Kulkas Part 1

Seperti yang kalian semua mungkin sudah tau, gw telah memutuskan untuk resign dari pekerjaan gw yang sekarang, meninggalkan kehidupan gw yang stabil dan nyaman (walau banyak lemburnya) untuk kembali ke rumah orang tua gw dan menekuni hobi baru gw: menyulam. Yes, dan secara visa gw di Jepang ini adalah visa kerja dan dorm yang saat ini gw tinggali adalah dorm perusahaan, ini berarti saat gw resign nanti, gw harus segera angkat kaki dari dorm dan kemudian keluar dari negeri bunga samurai ini. Yes, and that means sebelum gw keluar dari dorm, gw harus mengosongkan kamar gw. Kalo hati gw sih, ud kosong dari taon lalu (Dum tess!), walaupun pikiran tak pernah kosong dari dirimu… Kulit Ayam KFC…

Perihal pengosongan kamar ini, ada dua peer besar yang perlu gw beresin. Yang pertama adalah menghibahkan TV gw yang masih bagus dan cang-cing ke pihak yang membutuhkan dan yang kedua adalah ngebuang 2 kulkas gw. Yep, gw punya 2 kulkas. Tadinya tiga malah, satu gw ud sumbangkan ke abang-abang ganteng di lantai 3. Kenapa gw bisa sampe punya 3 kulkas? Well, panjang ceritanya, tapi biar postingan ini panjang, gw tetep akan ceritain.

Kulkas pertama gw gw dapet dari seorang senior wanita yang bernama Ani (bukan nama sebenarnya) kurang lebih 6 bulanan setelah gw pindah ke Jepang. Waktu itu, doi memutuskan untuk resign dan secara di Jepang ini lo harus keluar duid untuk nge-buang kulkas, gw pun selaku pria sejati (yang selama enam bulan dengan sukses ngebusukin berlusin-lusin telor karena ga punya kulkas) pun menawarkan untuk meringankan beban doi dengan mengambil kulkas doi. Yes, I did this to help her, bukan buat ngehemat pengeluaran gw. Suer, kalo ga percaya, bisa cek di toko sebelah.

So, singkat cerita, gw pun pergi ke dorm doi, yang mana adalah dorm perusahaan, tapi khusus cewe, pergi ngambil kulkas dan dengan jantannya ngegotong kulkas tersebut dari dorm doi ke dorm gw. Kulkasnya sih cuman kulkas cebol satu pintu, tapi percayalah, beratnya bukan kepalang, berjalan-jalan selalu riang kemari, umpan yang besar itulah yang dicari. Ini dialah yang terbelakang.

Oke, Stepen, focus.

Eniwei, naasnya adalah setelah gw menghabiskan kurang lebih 1 jam ngegotong kulkas tersebut dari dorm mawar ke dorm gw (yang mana biasanya cuman butuh waktu 10 menit jalan kaki) dengan tangan yang ud kaya mau melahirkan, pas sampe di kamar dan gw tes, ternyata kulkasnya ga nyala. Yes, kemungkinan besar, pas gw gotong dari dorm mawar, gw dengan sukses ngerusak kompressornya pas naro kulkasnya di jalan buat ngistirahatin tangan gw yang ud hampir beranak. Gw pun berusaha untuk sok cerdas dengan mencoba mengalih-fungsikan kulkas jebol ini sebagai show case gundam-gundam gw. Sayangnya, kulkas ini bau cabe dan gw ga mau Gundam gw gedenya jadi cabe-cabean, gw pun mengurungkan niat gw.

Oke, moving on.

Kulkas kedua gw, gw dapet dari secara hoki dari salah seorang penghuni dorm gw yang hingga saat ini gw ga tau siapa. Yes, jadi ceritanya, di suatu malam yang cerah, seperti biasa, gw yang baru pulang kantor pun mempir ke ruang tempat sampah buat ngecek in case ada orang yang ngebuang barang bagus yang bisa gw pulung. Di luar dugaan, di depan ruang sampah, ada yang naro kulkas di sana en di atas kulkas tersebut, ditempelin kertas yang bertuliskan:

“Bagi yang membutuhkan, silahkan ambil.”

So, gw yang by genetics sangat suka dengan barang gratisan pun langsung mendorong kulkas ini ke kamar gw dan berdoa ke Tuhan yang mahakuasa atas rejeki yang Dia limpahkan ke gw. Oke, gw boong, gw ga berdoa, gw naro  sesajen.

So, ga pake galau, gw pun langsung menyeret kulkas ini ke kamar gw dan langsung ngetes kulkas ini rusak atau enggak. Jangan sampe ketipu, ud diambil tau2 rusak dan keluar duid buat ngebuang kulkasnya. Dan puji Tuhan, kulkasnya nyala dan bunyi dan setelah ditunggu selama satu jam, freezernya beneran dingin walaupun yg bawahnya ga terlalu dingin. Kenapa gw tau ga terlalu dingin? Karena seminggu kemudian gw dengan sukses ngebusukin selusin telor lagi. But then, secara freezernya nyala, gw pun memutuskan buat make kulkas ini sembari menunggu Tuhan memberikan kulkas yang lebih baik buat gw. Dan sejak punya kulkas inilah, masa2 jahilliah dimana gw setiap hari ngebekuin Fanta Anggur buat dibawa ke kantor pun dimulai. #cerdas

Eniwei, lantas gimana ceritanya bisa punya kulkas ketiga? Well, ceritanya panjang juga, tapi tetep gw akan ceritain juga demi kalian.

Jadi kulkas ketiga ini gw dapet di somewhere di taon kedua gw di Jepang. Waktu itu, hujan rintik-rintik, dan salah satu senior gw, sebut saja Hercules (juga bukan nama sebenarnya), memutuskan untuk resign karena doi harus pindah ke Ome akibat restrukturisasi perusahaan doi yang not doing too well. Secara di Ome ga ada apa-apa dan jauh dari mana2, dengan berat hati, doi pun resign, padahal ga ada masalah dengan kerjaan doi ataupun hubungannya dengan atasan, ga kaya gw (curcol). Eniwei, again, secara buang kulkas bayarnya mahal dan again secara gw ingin membantu meringankan beban doi yang sebentar lagi berstatus pengangguran (gw juga sih sekarang), gw pun memutuskan untuk mengadopsi kulkas doi ke dalam keluarga besar barang-barang rongsokan di kamar gw. Kulkas ini akhirnya gw sumbangkan buat abang-abang ganteng di lantai 3 karena doi merasa punya kulkas 2 biji itu ganteng. Good luck throwing those things away later bro.

So, saat ini, masih ada 2 kulkas di kamar gw, yang satu totally rusak, satu lagi cuman freezernya aj yang jalan. Rencananya somewhere within this month, gw bakal nelpon recycle center buat nanya prosedur pembuangan sampah. Tapi karena hingga postingan ini diturunkan, gw belum sempat nelpon karena agak males saolnya harus ngomong bahasa jepang dan bahasa Jepang gw cupu lupa mulu (Kalo sekarang, ga bisa, hari minggu call centernya tutup. #excuse), maka dengan berat hati cerita ini harus gw akhiri. Lagian juga gw ud kelamaan nongkrong di Saizeriya mengeksploitasi drink barnya. Saatnya gw pergi dengan cool sembelon mbak-mbak pramusaji manis yang melayani gw mengira gw ini cheapskate yang ga modal, walaupun itu semua benar adanya.

Stepen – Tajir Punya 3 Kulkas Tapi Ga Punya Pacar

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog | Leave a comment

Kesengsem

Gw adalah orang yang mengklaim dirinya sendiri sebagai seorang petualang dan selalu berusaha bergaya tough (baca: taff) supaya orang2 mengira gw adalah seorang petualang, walaupun dari segi kekuatan fisik, gw ga berbeda jauh dengan lemper. Dan, akibat doktrinasi gw pada diri gw sendiri, orientasi seksual gw pun berubah. Yes, tadinya gw suka sama cewe feminim dan manis, sekarang entah kenapa gw lebih prefer perempuan tough (baca: taff). Yes, cewe yang suka bertualang, ga takut kotor (karena kalo ga kotor ga belajar), suka olahraga, dan yang paling penting: kalo masak indomi 2 bungkus, bumbunya dipake 22nya, ga kaya nyokap gw yang cuman makein 1 bungkus dan satu bungkus yang satu lagi dibuang. (Hambar tau, ma!)

Cilakanya, ada 2 masalah yang sangat mendasar dengan preferensi cewe gw. Masalah yang pertama adalah gw bukan orang bisa pilih2 tipe cewe yang gw suka secara nyari cewe yang suka gw aj susahnya minta ampun. Masalah yang kedua adalah tipe cewe tough (baca:taff) preferensi gw itu saat ini sangatlah langka. Menurut data terbaru dari Komisi Curcol Nasional, cewe tough (baca: taff) ini jumlahnya kurang dari jumlah populasi Panda di dunia alias sangat langka. So, gw pun pasrah dan memutuskan untuk berhenti mengejar wanita dan memilih untuk mengejar cita2 gw: mencapai level 100 di game Path of Exile.

Tapi memang dasar pucuk di cinta, ulam pun tiba, cinta pun datang tanpa permisi. Yes, dan ini adalah cerita gw yang baru saja kesengsem sama seorang wanita tough (baca: taff) tanpa gw sangka-sangka yang BNS (berakhir ngenes seketika). And here is the story for your laughing pleasure.

Jadi ceritanya kemaren di kantor, gw hima (Hima adalah bahasa jepang untuk suatu keadaan dimana elo punya byk banget kerjaan, tapi motivasi elo buat ngerjain tugas tersebut nol besar), dan gw pun iseng ngimel ngajak anak2 global buat kojin voli sabtu ini (Yes, sabtu ini, kemaren). Dari imel tersebut, beberapa org tertarik buat ikut dan salah satunya adalah seorang wanita bernama Ningsih (bukan nama sebenarnya). Sebenernya gw ud ketemu Ningsih sebelumnya pas nimbrung voli anak2 Filipin, tapi waktu itu, gw ga sempet ngobrol sama doi, jadi saat itu belum ada rasa apa2 (Asek, gw ganteng!). So, doi ngebales imel gw, bilang klo doi pengen ikut dan gw welcome.

Fast forward ke hari berikutnya, which is kemaren, gw pun dateng ke Tsurumi Sport Center buat kojin voli dan setelah ga lama nunggu, Ningsih pun dateng. Secara bocah2 yang laennya telat, gw pun ngajak doi ngobrol untuk mencairkan suasana. Obrolan berjalan dengan biasa sampe pada akhirnya gw dengan super casual tanpa pake idung kembang kempis bertanya:

“Ke sini jalan kaki?”

Doi menjawab:
“Enggak, naek sepeda.”

Gw pun nanya lagi:
“Dari lembah berkuil?”

Doi pun menjawab lagi:
“Oh enggak, gw dari tengah prefektur, ud ga tinggal di lembah berkuil lagi.”

Dan seketika angin berhembus menerbangkan rambut Ningsih dalam gerakan slow motion diiringi dengan lagu “Inikah Namanya Cinta”-nya M.E.

Cewe ini naek sepeda dari tengah prefektur sampe Tsurumi Sport Center. Di tengah musim dingin kaya gini selama 2 jam ngegenjot sepeda, apalagi namanya kalo bukan cewe tough (baca: taff). Dan seketika gw pun K3 (kepincut, kesengsem, dan kelilipan). Gw langsung berkata dalam hati gw: “Gw harus menikahi cewe ini”. Gw yang tadinya biasa pun jadi malu2 kucing dan langsung berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasrat ingin tepe dan ingin caper. Fantastis. And as the consequences, gw yang tadinya maen voli ini demi lucu2an aj jadi termotivasi dan bertekad untuk tampil impresif dan submisif untuk memikat Ningsih. Sayangnya semua tidak berjalan sesuai rencana gw.

Di paruh pertama permainan voli ini, gw dengan sukses melakukan positioning yang ciamik saat defense. Yang gw maksud positioning adalah mencari posisi strategis yang ga akan disamperin bola. Prinsip gw adalah you can’t do any mistake if you didn’t need to do anything. Brilliant! Sayangnya ide brilian gw ga bertahan lama. Satu kali bola datang ke arah gw, gagal gw receive dan gw pun dengan sukses ditandain sebagai kelemahan tim. Bola pun mulai berdateng ke arah gw dan gw dengan sukses menghancurkan image gw sebagai seorang laki2 tough (baca: taff). Klo cuman itu doang sih masih mending. Yang lebih parahnya, ada saatnya gw melakukan miss receive beberapa kali berturut-turut sampe akhirnya Ningsih yang posisinya di sebelah gw menawarkan dirinya buat mengkover posisi gw saat defense biar gw bisa minum kopi di pinggir lapangan. Image gw sebagai cowo tough (baca: taff) pun hancur berkeping2, terinjak2, dan akhirnya disedot sama vacuum cleaner.

Kini, gw pun dalam keadaan mental yang oleh para ahli psikologis disebut ‘bercampur-aduk’. Di satu sisi, gw kesengsem sama Ningsih, tapi di sisi laen, doi lebih tough (baca: taff) dari gw dan image gw di mata doi adalah lemah seperti lemper (Tradmark Stepen). Alhasil, di malam minggu yang indah ini, gw pun pergi ke kamar Alvi untuk menulis postingan ini sekalian bantuin doi ngabisin snack doi yang hampir kadaluarsa.

Ah, cinta, sejak dulu memang beginilah cinta, deritanya tiada pernaah berakhir.

Stepen – Fanboy Ti Pat Kay

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog | 1 Comment

Cerita Cangcut

(Warning, cerita ini NSFW alias Not Suitable For Whoever-You-Are-Ga-Ngaruh-Pokoke-Ga-Cocok (maksa), so read at your own risk and enjoy my absurdity.)

Tiga tahun yang lalu, gw dateng ke Jepang dengan membawa sejuta mimpi dan 6 pasang kolor. Yes, 6 pasang. 1 pasang untuk hari Senen, 1 pasang untuk hari Selasa, 1 pasang untuk hari Rabu, 1 pasang untuk hari Kamis, 1 pasang untuk hari Jumat, 1 pasang untuk hari Sabtu (cape yah nulisnya), dan di hari ke tujuh, gw beristirahat (Ini ngomongin kolor apa kisah penciptaan sih?). Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu, gw merasa sedikit demi sedikit kolor gw semakin berkurang. Tentu saja, selama 3 taon ini, gw ga terlalu sadar klo kolor gw kurang, secara gw ga kurang kerjaan ngitungin kolor gw sendiri. Tapi bulan lalu, suatu peristiwa yang tidak diduga-duga terjadi dan membuat gw sadar akan hilangnya kolor gw secara misterius.

Yes, bulan lalu tepatnya pada minggu ketiga, 9 planet berjajar dalam satu garis dan gw pun selama seminggu itu menumpuk laundry (baca: males nyuci baju). Di hari sabtu yang cerah di minggu tersebut, gw pun hendak melakukan ritual mandi triwulanan gw dan saat gw hendak mengambil baju ganti, gw sadar bahwa gw kehabisan kolor. Ini sangat mengejutkan mengingat taon lalu gw sempet menumpuk laundry selama sebulan dan tidak keabisan kolor. Untungnya, gw punya otak cem McGyver. Tak ada kolor, celana renang pun jadi. Jadilah gw seharian itu absurd, make celana renang di dorm padahal ga berenang.

Sadar bahwa gw kehabisan kolot, gw pun langsung melakukan hal yang semua pria sejati lakukan di saat mereka kehabisan kolor: nyuci semua cucian kotor gw. Setelah beres nyuci cucian, gw pun mengumpulkan cucian tersebut untuk dilipet dan dilakukan pembukuan dan, jeng, jeng, jeng, hasilnya di luar dugaan, kolorku tinggal 4, kupegang erat-erat.

Personally, gw cukup shock saat tau kolor gw tinggal 4. Itu pun salah satu dari keempat kolor tersebut ud siap turun pangkat jadi kaen lap buat cuci mobil (Yes, ajaran nyokap gw, kolor yang ud jelek jangan dibuang, tapi dijadiin kaen lap. Makanya ga heran rumah gw bau selangkangan, haha). Gw pun mencoba nginget2 dan menelusuri kemana ilangnya kolor-kolor tersebut dan setelah berpikir keras menganalisa semua kemungkinan yang ada sambil makan indomi, berikut beberapa hipotesa yang bisa gw tarik:

  1. Kolor gw dicuri dan disandera oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dimintai tebusan.
  2. Ada salah seorang wanita penghuni dorm yang naksir sama gw tapi pemalu dan ga berani ngajak gw ngomong. Alhasil, doi nyuri cangcut gw pas lagi gw tinggal di laundry room untuk menarik perhatian gw.
  3. Ada salah seorang pria penghuni dorm yang naksir sama gw tapi pemalu dan ga berani ngajak gw ngomong. Alhasil, doi nyuri cangcut gw pas lagi gw tinggal di laundry room untuk menarik perhatian gw.
  4. Pas gw lagi laper dan ga ada makanan, gw secara ga sengaja dan ga sadar ngemilin kolor gw sampe abis.
  5. Kolor gw ternyata bisa gerak, joged, lari-lari, en ngomong cem Toy’s Story dan saat ini mereka sedang sibuk syuting Kolor’s Story.

Well, okay, gw sadar gw malem2 absurd banget ngomongin kolor. Saatnya berhenti sebelum ke-absurd-an ini semakin menjadi2 dan tidur. But I am publishing this crap anyway though!

Stepen – Malem2 Ga Bisa Tidur Malah Mikirin Kolor

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Random Pointless Post | 2 Comments

Kepada bapak Harland

Selamat sore, pak, salam goyang…

Perkenalkan, nama saya Stepen, saya tidak kenal bapak dan bapak tidak kenal saya.

Walaupun begitu, saya amat sangat berterima-kasih karena bapak telah menciptakan makanan yang paling enak yang pernah saya cicipi di muka bumi ini. Dengan 11 bumbu rahasia yang hingga jaman kemajuan internet ini saya bingung masih tetap bisa rahasia, bapak berhasil menciptakan sesuatu yang setiap kali saya makan membuat saya ingin poco-poco di tempat. Saya pun tak kuasa menahan gejolak untuk ngelopekin (menguliti/mengelupaskan) kulit berbumbu tersebut untuk disisihkan dan dimakan terakhir setelah saya mandi kembang makan dagingnya. Ya, saya sangat mencintai makanan yang bapak ciptakan. Bahkan, saya pernah me-unfriend teman terdekat saya di facebook karena menghianati saya dengan mengambil secuil kulit gurih dari piring saya saat saya pergi ke WC untuk cuci tangan.

Saya tahu, bapak tidak akan membaca surat ini karena bapak tidak lagi bersama dengan kami. Walaupun begitu, saya sangat ingin mengungkapkan rasa cinta saya kepada kulit ayam gurih ciptaan bapak karena saya tahu, sama seperti saya, banyak sekali jiwa-jiwa tersesat yang terselamatkan dan menemukan kembali jati dirinya setelah mengecap ayam goreng ciptaan bapak. Saya masih ingat, saat itu saya sedang lapar dan putus asa dengan skripsi saya yang tak kunjung selesai. Di tengah keputusasaan itu, saya berniat untuk mengakhiri hidup saya dengan menahan nafas sambil kayang (Please, bagi teman-teman yang sedang dilanda duka, jangan dicoba). Namun, di detik-detik terakhir saya menahan nafas, layaknya di pelem-pelem telenovela kelas dua, flashback tentang kenangan-kenangan indah sepanjang hidup saya pun muncul dan saya teringat akan kulit ayam fantastis ciptaan bapak. Akhirnya, saya pun memutuskan untuk makan dulu. Kebetulan di deket kos saya, ada gerai yang menjual ayam goreng bapak dan waktu itu masih awal bulan, saya pun memutuskan untuk menikmati ayam goreng ciptaan bapak. Saya yang saat itu depresi pun mendadak amnesia saat menikmati kelezatan kulit ayam gurih ciptaan bapak dan saya jadi lupa kalau pas pulang nanti harus bunuh diri, saya malahan cuci baju pas pulang.

Jadi, sekali lagi, terima kasih atas kenikmatan dunia yang bapak cintakan. I love you for it.

Stepen – 30 Hari Menulis Surat Cinta

Posted in Indonesian Post, Personal Blog, Random Pointless Post | Leave a comment

30 Hari Menulis Surat Cinta

Minggu lalu, waktu pas gw lagi iseng ngecek facebook, gw ga sengaja nemuin seorang temen ngeshare artikel/lomba/sayembara/entahlah-gw-juga-bingung-ini-barang-disebutnya-apa tentang 30 hari menulis surat cinta. Secara gw ini adalah seorang pujangga, out of my impulsiveness, gw pun random aj daftar. Siapa tau aj dengan ikutan program kaya ginian, gw bisa ngetop, jadi artis, kaya raya, dan akhirnya bisa bayar suntik hormon buat memperlebat bulu dada gw. Cilakanya gw lupa satu hal: untuk ngetop, gw harus menulis 30 surat cinta. Suatu hal yang sangat mustahil mengingat surat yang terakhir gw tulis adalah surat pernyataan kalo gw ga akan ngopi peer temen lagi yang gw tulis waktu SMP, which is ud 17 taon yang lalu (damn, I am old). So, here I am, waiting for the inspiration to come karena hari ini adalah hari pertama gw harus nulis surat cinta tersebut dan ngepost surat cinta tersebut sebelon jam 6. While waiting, okelah, mari kita bikin postingan super random yang gw harap bisa memancing kreativitas gw yang sedang hibernasi di musim dingin yang dingin ini.

Secara “knowing is half the battle’ (sok iye), gw pun memutuskan buat nge-research tentang surat-surat cem mana sih yang ditulis peserta laennya. Alhasil, gw pun ngebuka twitter gw (yang ud debuan gara2 lama divacuum) dan ngebacain surat-surat yang ud disubmit di hari pertama. Aje gile, semuanya sangat puitis dan bikin gw pengen nonton 300 buat mengembalikan kejantanan gw. Belon lagi, rata-rata yang ngepost surat cinta adalah cewe. Sesi survey buat menentukan surat cinta kaya apa yang mau gw tulis pun berubah jadi sesi stalking. Untungnya ga lama nyokap nelpon gw buat nanyain gw ud ke gereja apa belon hari ini. Seperti biasa, jawaban gw atas pertanyaan mak gw selalu sama: “Pengen sih ma, tapi kan sekarang hari minggu, hari libur, tanggal merah, jadi gerejanya tutup, ga buka!” Dan gw yakin nyokap gw mengerti.

Eniwei, kembali ke nulis surat cinta ini, setelah 30menit terbuang percuma ngestalkerin cewe2 peserta laen, gw pun sadar bahwa gw belon makan siang. Okelah, gw akan makan siang dulu, siapa tau abis makan siang, ide genius gw akan muncul.

Stepen – Out for Lunch

Posted in Indonesian Post, Personal Blog, Random Pointless Post | 1 Comment

Not Yet a Happy New Year

Actually, I have Coursera assignment deadline that is due in three hours, but since I still have no motivation to do it, I decided to just write a post for my blog to fool my self into thinking that I was kinda productive today. So, here it is, me fooling my self. (Hello, procrastination!)

So, what should I write about?

Oh, yeah, the happy new year thing.

This is my first post in 2016 and although it is already two weeks late, I just wanna say happy new year! But for me, it is not yet a new year. My new year will hopefully starts in March. Why March? Because that is where I will have my old life back as Stepen the jobless fool (aka I am quitting my job, yay?) and maybe start a post series “Jobless Fool’s Diary” (okay, added this one to my todo list, which already have too much items in it). So, why am I quitting? Well, it is kinda hard to explain without making me look like a selfish asshole or without making my department look like a selfish asshole. But to simply put it together, it is because we are not meant for each other.

So, yeah, putting the reason of me quitting aside, currently I am both in a mixed state of being hopeful and worried at the same time. I can see all the possibilities that I can do when I because jobless once again. All those heavy-weight Coursera courses that I wanna take, all those travels (Raja Ampat, Raja Ampat…) that I wanna make for showing-off in my facebook page (Yeah, baby, it is the showing off that is important, not the destination or the experience :D), and all those unbinding sidejob / personal projects that I wanna do. They are all so shiny that I get an erection just by thinking of it. Okay, maybe an erection is not the right words to describe it, so let me rephrase it: They are all so shiny that I cant stop drooling when I think of it. However, that also means I have to say goodbye to steady income (and no more buying Gundam every week). Yeah, like they said, money is always the problem. (T T)

But, anyway, what is it that I wanna say?

Oh shit, I forgot what I want to say. Damn those facebook notification popup sounds, thank you for distracting me.

Anyway, so yeah, happy belated(?) new year to you all and don’t forget to wish me a happy new year to me in three months.

Stepen – About to become Jobless

Posted in English Post, Heart Talk, Personal Blog | 1 Comment

Hello World 2.0

Untuk kedua kalinya, Hello, world!

Yup, setelah dorman selama beberapa bulan, gw akhirnya kembali dengan domain baru gw: stepenstepen.com. Asoy!

Kenapa gw memutuskan untuk bikin/beli domain baru? Kurang lebih alesannya simple, karena nama blog gw yang sebelumnya (stepena*t*s.wordpress.com) agak kurang enak buat didengar karena menggunakan istilah a*t*s. Gw takut nanti pas blog gw jadi ngetop (ngarep), gw bakal dicekal ormas-ormas tertentu karena menggunakan istilah a*t*s sebagai bahan ledekan, walaupun gw menggunakan istilah itu ngeledek buat diri sendiri. Lagian juga nama stepena*t*s terkesan cukup alay. Secara gw ud dewasa dan mulai meninggalkan ke-alay-an gw sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti, So, here I am, mengganti nama blog gw dengan nama yang lebih dewasa, walaupun demi hal ini gw jadi kudu mengorek kocek dari dompet gw sendiri untuk beli doman (Ya, gw baru tau ternyata kudu bayar kalo mau beli domain sendiri).

Adapun alesan laennya gw ngebeli domain ini adalah karena gw mau ngegabungin blog gw yang ga serius (stepena*t*s.wordpress.com) dengan blog gw lainnya yang sedikit lebih serius (zerocrossraptor.wordpress.com). Again, dan secara blog gw yang seriuspun namanya alay, gw pun memutuskan untuk sekalian aj beli satu domain buat kedua blog ini. Tapi jangan kuatir, thanks to my acute OCD, gw sudah memikirkan cara supaya blog gabungan 2 blog ini tetep rapih dan orang yang mau baca konten dari stepena*t*s.wordpress.com bisa baca tanpa harus ngeliat konten dari zerocrossraptor.wordpress.com yang mungkin terlalu high class dan terlalu intelek untuk mereka2 yang otaknya cuman separo kaya gw, and vice versa.

So, bagi kalian subscriber setia stepena*t*s.wordpress.com yang jumlahnya sangat banyak (hingga posting ini dibuat, tercatat ada 37 orang!), check out the personal blog tab on the main menu above untuk melihat konten-konten fantastis yang biasa kalian lihat di stepena*t*s.wordpress.com. Bagi kalian yang lebih high-class dan pembaca setia blog engineering gw yang saat ini sedang dalam status ‘hidup segan matipun tidak’, check out the engineering blog tab yang kalo kalian klik belon ada isinya karena gw belon mulai mindah2in konten blog zerocrossraptor.wordpress.com. Hahaha, maklum, winter makes me lazy a lot more lazier than usual.

Adapun stepena*t*s.wordpress.com bakal gw apus setelah beberapa saat karena, again, gw takut dicekal ormas-ormas masa tertentu karena menggunakan istilah a*t*s buat blog gw sementara blog zerocrossraptor.wordpress.com blm tau mau gw apain. Mungkin bakal gw bikin re-direct aj ke blog ini, but I dont know about it yet.

Okeh, sekian postingan singkat gw yang gw tulis di jam istirahat kantor. Sekarang saatnya lanjut pindah2in konten blog.

Stepen – Kini Punya Domain Sendiri

Posted in Indonesian Post, Personal Blog | 1 Comment

Rackexcalibur III : The Legend Ends

Ini adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur II yang adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur!. Untuk memahami lebih detail sekuel dari sekuel ini, silahkan baca terlebih dahulu postingan Rackexcalibur! dan Rackexcalibur II yang mana adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur!. Sangat dianjurkan untuk membaca terlebih dahulu postingan Rackexcalibur! sebelum membaca postingan Rackexcalibur II. Jangan membaca postingan  Rackexcalibur II tanpa membaca postingan Rackexcalibur! terlebih dahulu sebelumnya karena jika kalian meembaca Rackexcalibur II dahulu sebelum membaca Rackexcalibur!, maka semuanya akan menjadi gelap. Adapun paragraph ini gw tulis sebagai pengantar dan bukan semata-mata sengaja dilakukan untuk meng-abuse SEO blog gw dengan berulang-ulang menampilkan link ke postingan Rackexcalibur! dan Rackexcalibur II. Oke, here we go!

Seperti yang kalian tau dari postingan Rackexcalibur II yang adalah sekuel dari postingan Rackexcalibur! (okay, stop it Stepen!), Juni yang lalu, raket legendaris yang gw terima dari The Onosatou-san pun power-up dengan grip baru yang gw terima dari Romo Don Juan. Semenjak itu, permainan Badminton gw pun membaik dan sempat hampir berhasil mengalahkan cewek SMP yang biasanya mengalahkan gw telak. Namun tidak disangka, kemampuan tersebut membuat gw terlena dan manja. Ya, I was blinded by such power that I started to get cocky and slacking off. And here is the story about the bad effect of slacking off.

Kurang lebih sebulan yang lalu, sidekick sekaligus weker personal gw, Reza Kemben, pulang gw negeri Indonesia untuk mendapatkan tambatan hatinya, meninggalkan gw selaku super hero untuk beraksi sendiri membasmi kejahatan di dunia perbadmintonan. Alhasil, karena angkuh akibat terlalu dimanja Rackexcalibur II yang ud di-power up, plus ga adanya Reza Kemben yang membangunkan gw untuk sesi badminton di sabtu pagi, gw pun slacking off selama kurang lebih sebulan dan menghabiskan seluruh weekend gw di kasur, meditasi sambil ngupil. Dan tanpa gw sadari, kemampuan gw pun sedikit demi sedikit terkikis dan kepekatan chakra gw pun memudar.

Reza Kemben di sisi laen, justru doi berkelana keliling Jepang dengan sahabatnya, Melon Kolis, mengasah ilmu dan tenaga dalam mereka lewat perjalanan 16kippu yang mereka lakukan tanpa makan dan minum sedikitpun, kecuali di saat mereka lapar dan haus. Mereka berdua memaksakan fisik mereka melampaui batas sampai akhirnya menemukan penerangan di tempat tujuan mereka: Hakodate, yang bila diterjemahkan secara ngaco ke bahasa Indonesia, nama tempat tersebut berarti gua bulu tangkis. Ternyata, Reza Kemben telah mengetahui bahwa salah satu dari 7 raket legendaris yang tersebar di seluruh penjuru Jepang dan dengan sengaja meninggalkan gw untuk mencari raket tersebut bersama Melon Kolis. Dan perjalanannya pun tidak sia-sia.

Setelah 4 hari menempuh perjalanan 16kippu tanpa makan dan minum sedikitpun kecuali di saat mereka lapar dan haus, mereka akhirnya sampai di mulut gua bulu tangkis. Mereka pun memasuki gua tersebut dan menjelajahinya sampai ke ujung yang paling dalam. Setelah kurang lebih 30 detik menelurusi seluruh ujung goa, akhirnya mereka pun sampai pada satu meja altar besar di dalam gua tersebut. Di atas altar tersebut, berbaring sebuah tengkorak yang telah termakan usia yang menggenggam erat sebuah raket usang yang disandarkan di atas dadanya. Pada frame itu, terukir tulisan kaligrafi dalam bahasa Jepang kuno yang berbunyi: “Endi, nang kene lo” yang artinya angin yang melambai.

Reja pun mengambil raket tersebut dari tangan sang tengkorak dan seketika angin sepoi-sepoi berhembus dari seluruh penghubung goa. Tengkorak tersebut pun terangkat dari altarnya, seolah diterbangkan oleh angin sepoi-sepoi tersebut dan tiba-tiba cahaya biru merebak masuk menyinari tengkorak tersebut dan seketika tengkorak tersebut memudar menjadi debu-debu yang tertiup angin sepoi-sepoi tersebut. Reja pun menundukkan kepalanya dan segera berlalu dari gua bulu tangkis tersebut. Dan di mulut gua, Reja pun kaget mendapati penduduk desa yang telah menunggunya sambil bersujud.

Penduduk desa pun menceritakan kepada Reja bahwa sejak jaman Nobunaga dahulu, seorang pandai besi legendaris menciptakan raket badminton yang ditempa dengan angin sepoi-sepoi, namun karena kekuatan yang terlalu besar, pandai besi tersebut takut taket tersebut disalahgunakan dan doi pun menyegel raket tersebut di Hakodate bersama jasadnya, menunggu orang yang pantas untuk memegang raket tersebut dan ternyata orang tersebut tak lain tak bukan adalah Reza Kemben yang dengan tak bosan2nya harus gw ingatkan sekali lagi, bahwa doi adalah sidekick gw. Ya, adapun raket tersebut diberinama Masamunetz dan kekuatan spesial dari raket tersebut adalah dapat menciptakan angin semilir sepoi-sepoi saat diayunkan dengan sekuat tenaga. Ya, sebuah kekuatan spesial yang sangat berguna khususnya di musim panas ini.

Eniwei, Reza pun pulang dengan membawa raket legendari berelemen angin sepoi-sepoi, Masamunetz, tanpa menceritakan kepada gw tentang hal tersebut. Rupanya, doi cukup geram dengan gw yang terlena oleh kekuatan baru Rackexcalibur dan bermalas-malasan sepaanjang hari. Sampai di suatu hari sabtu yang cerah, Reja pun masuk ke kamar gw dan seperti biasa, memanggil gw untuk bermain badminton.

Singkat cerita, setelah mandi, pipis, sikat gigi, dan doa pagi mengucap syukur, gw pun pergi maen badminton dengan Reja. Kita pun memulai dengan sesi sparring ringan dan Reja pun mengeluarkan raket Masamunetz yang saat itu ia bungkus dengan kaen kafan dan tentu saja, gw yang saat itu belum tahu tentang Masamunetz, tidak tahu bahwa itu adalah Masamunetz. Anyway, kita pun memulai sesi sparring dengan Reja Kemben tetap bermain dengan keadaan Masamunetz terbungkus rapat oleh kain kafan.

Sparring pun dimulai dengan lob-lob ringan dan diselingi dengan sedikit obrolan. Reja pun mengatakan tentang gw yang makin males2an dan pembicaraan pun mulai memanas. Dengan obrolan yang mulai memanas, sparring pun ikut memanas dan obrolan ringan pun berubah menjadi sesi debat yang cukup kusir. Reza Kemben berusaha untuk menasehati gw agar tidak malas dan rajin mencuci kolor gw sementara gw yang saat itu dibutakan kekuatan dari Rackexcalibur pun panas dan akhirnya sesi sparring berubah menjadi sesi PBHM (Pertandingan Badminton Hidup dan Mati) dengan gw yang berusaha mengalahkan Reja dengan Rackexcalibur gw tanpa tahu bahwa yang ada di tangan Reja adalah Masamunetz.

Eniwei, biar ga kepanjangan postnya, pokoknya PBHM pun berlangsung dengan sengit dan akhirnya mencapai klimaks dengan skor 20-19 untuk keunggulan gw. Di saaat ini, gw pun sudah mulai curiga ada yang ga beres dengan raket Reja yang dibungkus kaen kafan tersebut. Gw merasakan adanya kekuatan yang menyala-nyala dari balik kaen kafan tersebut dan ternyata itu semua benar. Di saat skor 20-19 ini, gw pun memulai play dengan serve ciamik yang super fantastis dan Reja pun langsung menyamber servis gw dengan teknik Wind Smash. Seketika kain kafan yang membungkus Masamunetz pun sobek dan angin sepoi-sepoi berhembus menyertai smash-nya Reja. Gw yang sempat menggigil akibat angin sepoi-sepoi tersebut pun menjadi telat bereaksi dan gagal mengembalikan smash tersebut.

Gw pun menatap mata Reja dan tanpa mengucapkan satu patah katapun, gw dan Reja pun berkomunikasi via mata. Kira-kira begini pembicaraan kami:

GW: Someone’s been hiding something, eh?

R: I am not hiding something, I just dont wanna spoil myself with the power that I have and start to slack off like certain someone.

GW: Well, then, lets see if you can beat this certain someone that has been slacking off.

Dan gw pun memutuskan untuk tidak melakukan Deuce dan melanjutkan dengan Sudden Death. Skor 20 sama, dan yang memenangkan play terakir ini yang akan keluar sebagai pemenangnya. Reza pun mengangguk menyetujui dan play terakhir dari PBHM abad ini pun dimulai.

Reja memulai play dengan servis tinggi yang gw sambut dengan drive yang kental manis. Rally pun berjalan dengan seimbang selama kurang-lebih setengah jam sebelum akhirnya gw melakukan kesalahan dengan memberikan bola yang cukup tinggi di depan. Reja pun membaca bola mudah tersebut, mengangkat tangan kirinya ke atas untuk mengira-ngira jarak kok dan memindahkan titik berat tubuhnya ke kaki kanannya yang kini ada di belakang. Gw pun mengencangkan genggaman tangan gw dan berusaha untuk membaca arah dari Wind Smash yang akan Reja keluarkan. Gw pun kedip kiri dan Reja pun kedip kiri, namun Wind Smash pun dilepaskan ke arah kanan lapangan. Gw yang telah sedikit salah langkah pun melompat ke arah kanan dan menjatuhkan diri gw bak Cheetah yang hendak menerjang seekor Gazelle dan dengan ciamik pun berhasil meraih kok dan mengembalikannya dengan dropshot ajegile yang Reja hanya bisa tatap saja dari tengah lapangan karena ia masih melakukan Recovery dari Wind Smash stancenya. 21-20 untuk kemenangan gw. Namun semua itu harus gw bayar dengan harga yang mahal.

Gw pun bangkit dari jatuhnya gw dan menatap Reja dengan muka nyolot sambil mengembang kempeskan idung gw. Reja pun dengan santainya menatap kembali mata gw dan mengarahkan pandangannya ke mata gw, seolah menyuruh gw untuk menatap Rackexcalibur. Gw pun menatap Rackexcalibur dan tiba-tiba frame Rackexcalibur melengkung dan seketika patah. Gw pun membelalakkan mata gw, berusaha untuk tidak terlihat sipit, namun itulah yang terjadi. Rackexcalibur patah oleh Wind Smash Masamunetz.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gw pun menatap Reja, menundukkan kepala gw dan berkata :

“Ja, lo bawa dua raket kan? Gw pinjem yah?”

Hingga saat posting ini diturunkan, terus terang gw masih bingung apa yang harus gw lakukan dengan Rackexcalibur yang patah ini. Gw sudah keliling Jepang selama sebulan ini untuk mencari pandai besi yang bisa mereparasi Rackexcalibur namun tak ada satupun yang menyanggupi. Setiap kali Rackexcalibur dimasukkan ke dalam bara api, Rackexcalibur sama sekali tidak memanas ataupun meleleh sehingga tidak dapat ditempa ataupun diperbaiki. Alhasil, semua pandai besi tersebut pun menolak untuk membantu gw karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki Rackexcalibur. Walaupun begitu, gw tidak sampai hati membuang Rackexcalibur karena ini adalah raket legendaris pemberian Onosatou-san. Opsi membeli raket baru juga tidak mungkin dilakukan karena gw terlalu pelit untuk ngeluarin duid buat raket tidak mungkin ada raket yang bisa menggantikan Rackexcalibur. Gw hanya berharap semoga dalam waktu dekat ini ada ksatria badminton lainnya seperti Onosatou-san, yang berbaik hati mau memberikan raket bekasnya legendarisnya ke gw. In the mean time, Ja, gw pinjem raket lo yah:D…

Stepen – Sedang Sedih karena Raket

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog | Tagged , , | Leave a comment