Stepen à Toulouse Ep 1 (alt): Le Cœur Brisé Avant Le Départ

Je suis Stepen. Je mesure 170 cm, je pèse 65kg, et j’ai des abdos dans mon ventre (si vous pouvez l’imaginer). Depuis que j’etudiais à l’ITB et etais pensé que je veux devenir pilote, j’ai rêvé d’etudier à l’ISAE en France, et de travailler en Europe pour gagner beacoup d’argents et pour rendre fier mon pays. Malheureusement, à cause de quelques conditions, je viens d’avoir l’opportunité d’etudier à l’ISAE cette année.

Parce que c’est mon rêve que j’ai attendu depuis longtemps et parce que j’ai le OCD, c’est mon nature que d’être trop préparé. Alors, bien que mon cours à l’ISAE est enseigné en français, j’ai decidé d’apprendre le français à l’IFI Thamrin. J’y suivais la classe super-intensif diligemment jusqu’a que j’ai l’ostéoporose. Mais, tout a changé après les vacances de Lebaran.

Après les vacances, il y avait une rotation du personnel. L’une des deux professeur qui m’enseignait a dû enseigner l’autre classe qui a perdu ses professeurs. En conséquence, j’ai eu une nouvelle professeur: une jeune femme, belle, et talentueuse, dont le nom veut dire “Prendre une photo de toi-meme”. Non, elle ne s’appelle pas Selfie. Oui, je jure, ce n’est pas son nom. Croyez-moi.

Je me souviens bien que quand elle est entrée la classe pour la première fois. Elle a ouvert la porte, je l’ai regardé et soudainement le temps passait lentement, les feuilles tombaient et j’ecoutais la musique Indienne. Oui, je a vraiment eu le coup de foudre. Après ça, j’ai directement couru aux toillettes pour danser Kuchi-kuchi-hootahey.

Depuis ça, ma vie a changé. Je suis devenu plus joyeux et aussi plus coquette. Je lui envoyais quelques signals dans la classe et à travers mes écritures. A ma dernier jour dans l’IFI, je l’ai invité à venir en France avec moi. Malheureusement, elle m’a demandé de la financer, mais je n’avait pas d’argents. Notre amour a fini à cause d’un problème financier.

Après ça, je ne la vois plus, mais je vois sa page Facebook tous les jours. Néanmoins, je ne l’abandonne jamais. Je l’attends jusqu’a que elle ait des argents pour me financer. Oui, parce que financier son mari, c’est une obligation de la femme.

Stepen – l’homme qui attend

Posted in French Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Stepen di Toulouse Ep 1 (alt): Patah Hati Jelang Keberangkatan

Postingan ini adalah postingan alternate dari postingan Stepen di Toulouse Ep 1. Sama seperti postingan original yg gw sebutkan di atas: postingan ini adalah postingan trilingual yang gw buat demi memamerkan kehebatan gw dalam membuang-buang waktu menulis hal yang tidak ada gunanya. Klik tautan berikut untuk Stepen in Toulouse Ep 1 (alt) versi bahasa Inggris dan klik tautan berikut untuk Stepen à Toulouse Ep 1 (alt) versi bahasa Perancis. Oke, cukup penjelasannya, mari kita mulai.

Nama gw Stepen, tinggi 170an, berat 65an, BMI 20an, perut hampir sixpack (kalo dibayangin). Sejak masih kuliah di ITB dan dikira orang pengen jadi pilot, gw selalu memimpikan untuk bisa kuliah di ISAE Perancis, terus lanjut kerja di Eropa demi mencari duid sebanyak2nya dan mengharumkan nama bangsa. Sayangnya, dengan adanya berbagai situasi dan kendala, gw baru punya kesempatan untuk berkulih di ISAE tahun ini.

Secara ini adalah sebuah impian yang ud gw tunggu2 sejak lama, dan secara gw ini mengidap OCD akut, it is within my nature to overprepare everything. Dan, akhirnya, walaupun kuliah gw di Perancis ini dilakukan dengan bahasa Inggris, 3 bulan yang lalu, gw memutuskan untuk belajar bahasa Perancis di IFI Thamrin. Gw mengambil kelas Super Intensif di sana dan dengan tekun, fokus, dan tanpa distraksi, belajar Perancis dengan tekun sampai akhirnya kena osteoporosis. Tapi semuanya berubah sehabis libur lebaran.

Yes, selepas lebaran, terjadi pergantian guru. Salah seorang dari 2 guru yang mengajar kelas gw harus pindah mengajar di kelas sebelah yang kehilangan gurunya. Alhasil, gw pun mendapatkan guru baru, seorang wanita muda, cantik, dan berbakat yang namanya dalam hampir semua bahasa di muka bumi ini berarti narsis moto diri sendiri. Bukan, namanya bukan Selfie. Suer, percayalah.

Saat doi masuk kelas gw untuk pertama kalinya, gw inget banget, gw melihat doi membuka pintu kelas dan seketika waktu berjalan lambat, bunga sakura berguguran, dan musik India pun berkumandang di telinga gw. Yes, gw jatuh cinta, pada pandangan pertama. Dan gw pun langsung lari ke WC buat joged Kuchi-kuchi-hootahey.

Sejak doi mengajar, kehidupan gw pun berubah. Gw jadi lebih ceria dan genit. Gw mulai mengirimkan kode kode keras ke doi selama perjalanan dan lewat tugas-tugas karangan gw. Bahkan, di saat hari terakhir gw belajar di IFI, gw dengan romantis mengajak doi untuk pergi bersama gw ke Perancis. Sayangnya, doi minta gw buat ngebayarin pergi ke Perancis dan gw ga ada duid secara gw sendiri dibiayai negara #lpdp #pamerdulu. Alhasil, cinta kita pun kandas terhalang masalah materi.

Sejak saat itu, gw pun belum pernah ketemu doi lagi walaupun setiap hari masih suka ngestalkingin facebook doi. Walaupun begitu, gw tidak akan pernah menyerah. Gw akan terus menunggu sampe doi punya duid buat ngebayarin gw ke Perancis di kemudian hari. Yes, karena adalah tugas wanita untuk menafkahi suaminya.

Stepen – lelaki yang menunggu

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Stepen di Toulouse Ep 2: Jam Menunjukkan

Ini adalah postingan trilingual (asek). Klik tautan berikut untuk Stepen in Toulouse Ep 2 versi bahasa Inggris dan tautan berikut untuk Stepen en Toulouse Ep 2 versi bahasa Perancis.

22 Agustus 2016…

Jam menunjukkan pukul 15 lebih beberapa menit. Aku pun melangkahkan kakiku menuju pintu masuk terminal 2E. Sembari mendorong troliku yang terlalu berat, aku mengeluarkan HP Samsung warisan sang ayah dari kantongku, berusaha untuk menampilkan e-tiketku di layar. Ceroboh, akupun menjatuhkan HPku, menarik pandangan semua orang kepadaku. Dengan perlahan, akupun membungkukkan badanku, mencoba untuk meraih HPku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku menahan bajuku agar bulu dadaku tak terlihat saat membungkuk. Tak lama, akupun meraih HPku dan dengan cepat menunjukkan e-tiketku kepada petugas penjaga. Tak lama, iapun membiarkanku masuk.

Jam menunjukkan pukul 15 lewat 45 menit. Masih ada 3 orang lagi di depanku: sepasang kekasih muda dan seorang laki-laki separuh baya dengan topi koboi. Sejenak, perhatianku kembali teralih pada troli bawaanku dan akupun mulai was-was mengingat bahwa total panjang+lebar+tinggi dari salah satu tas bawaanku adalah 158cm atau tepat sama dengan dimensi maksimum checked baggage yang diperbolehkan. Aku hanya berharap petugas check-in tidak akan mendeclare tas tersebut sebagai oversized baggage karena itu akan membuatku lebih miskin 300USD.

Jam menunjukkan pukul 17 lewat 5 menit. Aku sekali lagi melangkahkan kakiku memasuki pintu terminal 2E setelah tadi keluar lagi setelah melakukan check-in baggage. Secara samar aku mendengar tangisan para wanita di belakangku, seolah mencoba untuk menghentikan kepergianku dengan air mata mereka. Namun, tidak, mereka tidak bisa menghentikanku. Sudah 4 tahun lamanya aku menunggu kesempatan ini. Namun aku sadar, akan sangat dingin bila aku meninggalkan wanita-wanita ini begitu saja. Akuoun menghentikan langkahku sejenak, membalikkan kepalaku ke arah mereka, lalu memberikan senyuman terakhirku kepada mereka. Mereka membalasnya dengan melambaikan sekali lagi tangan mereka dan aku pun membalikkan kepalaku sekali lagi ke depan lalu ngupil. Sudah lama gatalnya.

Jam menunjukkan pukul 21 kurang beberapa menit. Aku melepas headsetku dan mematikan layar inflight entertainment yang tengah menunjukkan credit roll dari film animasi berjudul Turbo, yang menceritakan tentang seorang siput yang ingin menjadi pembalap. Sejenak aku menatap ke luar jendela. Gelap dan tidak kelihatan apa-apa dan akupun tiba-tiba ingin pipis. Akupun menoleh ke sebelah kiriku, ke arah sepasang kekasih yang duduk menghalangi jalanku ke aisle. Maksud hatiku ingin meminta permisi keluar ke toilet, namun melihat mereka yang tengah bercumbu mesra, akupun mengurungkan niatku. Masih bisa kutahan, pikirku.

Jam menunjukkan pukul 23 kurang beberapa menit. Aku melepas headsetku dan mematikan layar inflight emtertainment yang tengah menunjukkan credit roll dari film komedi Daddy’s Home, yang dibintangi Will Ferrell dan Mark Walhberg yang sebelumnya juga pernah berkolaborasi bersama dalam film The Other Guys. Sekali lagi aku menatap ke luar jendela. Masih gelap dan tidak kelihatan apa-apa dan seketika hasrat ingin pipis pun kembali mengetuk pintu, seolah mengingatkanku akan hutang yang belum aku lunasi. Terpaksa, aku pun menoleh ke arah sepasang kekasih di sebelah kiriku. Kini mereka tengah saling mengulum bibir masing-masing, seolah mereka sudah 5 hari belum makan. Dengan sadar, akupun mengatakan pada diriku sendiri: “Dont look, dont look, dont look”. Tapi penasaran, gimana dong? Dan akupun sekali lagi mengurungkan niatku untuk pipis. Masih bisalah ditahan, pikirku lagi.

Jam menunjukkan pukul 23 lewat 15 menit. Gerbang pintu air Manggarai telah terisi penuh, namun masih belum dapat dibuka. Pasangan kekasih tersebut masih terus bercumbu mesra, saling cium diselingi gelitik-gelitik mesra, seolah dunia ini milik mereka berdua, seolah tidak ada lelaki di sebelah kanan mereka yang sedang menahan pipisnya. Aku pun membuka kantung snack kacang yang kuterima dari pramugari 1 jam yang lalu dan memakan kacang tersebut, berharap kacang yang kumakan bisa menyerap air-air berlebih dalam tubuhku yang menyebabkan hasrat ingin pipis ini. Sedikit lagi, Stepen, bertahanlah, pikirku.

Jam menunjukkan pukul 23 lewat 17 menit. Pintu air Manggarai hampir bocor dan meledak, namun masih juga belum dapat dibuka. Mereka masih menempel satu dengan yang lainnya, seolah dengan sengaja menghalangi jalanku ke lavatory.

Jam menunjukkan pukul 23 lewat 18. Kini tiap detik terasa sangat lambat. Aku memperhatikan gerakan jarum detik dari arloji di tangan kiriku yang kugambar sendiri dengan stabilo. Jarum detik tersebut tidak bergerak sama sekali, seakan aku sedang menghentikan waktu. Aku pun merasakan gejolak yang sangat hebat, sangat hebat, dan tak tertahankan. Dan akupun berdiri, melompati pasangan kekasih tersebut dengan salto berputar 3x di udara, mendarat di aisle, dan langsung bergegas ke arah lavatory, hanya untuk mendapati adanya antrian panjang di depan lavatory yang hanya ada 2. Mama sayange…

Stepen – lelaki yang sabar

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Stepen à Toulouse Ep 1: Le Cœur Brisé Avant Le Depart

Le 22 aoüt prochain, je vais aller à Toulouse en France pour me rapprocher de mon rêve:  devenir un bon ingénieur de l’aérospatiale qui est bien aimé par les femmes. Pourquoi La France et Toulouse? C’est simple. Puisque le Concorde a été créée par la France. Pour précisément, il a été construit par la France et l’Angleterre. Mais, si je devais choisir entre les deux pays, je choisirais la France parce que c’est d’où vient Thierry Henry.

De toute façon, je vais étudier à l’ISAE, qui est la fusion des les deux meilleures écoles d’aéronautique en France : Supaero et Ensica. Je prendrai le programme TAS Aero qui sera enseigné en anglais. Ç’est-à-dire, je n’ai pas besoin d’apprendre le français pour pouvoir le suivre bien. Mais, comme mon but final est d’y travailler et j’espere aussi avoir une femme française religieuse, j’ai pensé que je devais apprendre le français. Alors, il y a trois mois, j’ai commencé mon cours de français à l’IFI.

Comme la plupart de bons étudiants, je venais à l’IFI avec un noble objectif: apprendre bien le français. Mais, l’amour viendra quand vous vous y attendrez. J’y ai rencontré une jeune femme, belle et talentueuse, dont le nom, ça veut dire <<belle amour>> en Japonais, si je ne me trompe pas. Oui, je suis tombé amoureux, tombé durement qu’elle me fasse rouler à mon lit en mordant mon oreiller à chaque fois je pense à elle. Malheureusement, elle ne va jamais accepter mon amour car elle ne m’aime pas nous sommes professeure et élève.

En sachant que la relation entre professeur et élève est interdite, particulièrement si l’homme est laid comme le péché, je continuais mon cours à l’IFI en souffrant. J’enfouissais mes sentiments jusqu’à ce que j’aie perdu mes cheveux et que mes dents soient devenues jaunes car je ne les ai jamais brossées. Je passais mes jours à l’IFI sans esprit jusqu’a le debut de cette mois où j’ai réalisé que j’allais finir mon cours. Ça veut dire que nous n’etions pas professeur et élève, mais nous allons devenir une femme et un homme qui est chomeur. Mon nez a agrandi et rétréci. Mais, tout n’allait pas comme j’ai esperé.

Mon dernier jour à l’IFI que j’avais attendu, elle m’a présenté à son amie. D’un côté, j’etais content parce que ç’est-à-dire que j’avais des admiratrices. Mais, d’un autre côté, çela montrait qu’elle n’avait pas des sentiments pour moi. J’etais triste et j’arrêté de prendre un bain à cause de ma tristesse.

Voilà, c’est tout pour mon premier article Stepen à Toulouse. Je n’ai pas délibérément ecrit trop long pour ne pas avoir mal à la tête de le traduire.

Stepen – l’homme qui a le cœur brisé

Posted in French Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Stepen di Toulouse Ep 1: Patah Hati Jelang Keberangkatan

Ini adalah postingan trilingual (asek). Klik tautan berikut untuk Stepen in Toulouse Ep 1 versi bahasa Inggris dan tautan berikut untuk Stepen en Toulouse Ep 1 versi bahasa Perancis.

Tanggal 22 Agustus nanti, gw akan pergi ke Perancis, tepatnya ke Toulouse, buat mendekatkan diri gw ke mimpi gw, yakni menjadi seorang aerospace engineer yang handal dan digandrungi para wanita muda. Kenapa harus Perancis dan Toulouse? Simple, karena Concorde dibuat oleh Perancis. Well, dibuat oleh Perancis dan Inggris sih to be exact, tapi kalo disuruh milih antara Inggris dan Perancis, tentu saja gw milih Perancis, cause French has Thierry Henry.

Eniwei, jadi, gw akan bersekolah di sekolah gaul yang bernama ISAE, yang adalah gabungan dari 2 sekolah aeronautik* ternama di Perancis: Supaero dan Ensica. Adapun program yang akan gw ambil adalah program TAS-Aero. Sebenarnya, program ini adalah program dalam bahasa Inggris, which means gw ga perlu belajar Perancis untuk bisa mengikuti program ini dengan baik. Tapi secara gw bertujuan akhir untuk kerja di sini dan juga berharap mendapatkan wanita Perancis yang soleha, gw berpikir ada baiknya gw belajar bahasa Perancis. Dan, 3 bulan yang lalu pun gw memutuskan untuk mengikuti kursus Perancis super intensif di IFI Thamrin.

Sebagai murid baik pada umumnya, gw pun datang ke tempat kursus ini dengan tujuan mulia: belajar Perancis yang baik dan benar. Sayangnya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Siapa sangka di tempat les ini gw bertemu dengan seorang wanita muda, cantik, dan berbakat, yang namanya dalam bahasa Jepang berarti cinta yang indah (kalau gw ga salah inget). Yes, gw jatuh cinta. Saking cintanya, gw sampe guling-guling di kasur sambil gigitin bantal tiap kali gw mikirin doi. Sayangnya, cinta gw tidak akan pernah terbalas karena doi ga naksir sama gw doi dan gw adalah guru dan murid.

Sadar bahwa hubungan asmara antara guru dan murid itu adalah tabu, terutama bila sang murid jeleknya ga ketulungan, gw pun meneruskan studi gw di IFI dengan menderita dan sambil memendam rasa di dalam dada ini sampai akhirnya rambut gw rontok dan gigi gw kuning karena jarang gosok gigi. Gw pun melewati hari gw tanpa semangat sampai akhirnya awal bulan ini gw sadar, sebentar lagi gw akan berhenti kursus di IFI karena harus mempersiapkan keberangkatan. Ini berarti hubungan gw dengan doi akan segera berubah dari antara seorang guru dan murid menjadi antara seorang wanita dan laki-laki yang pengangguran. Hidung gw pun kembang kempis. Sayangnya semua tak berjalan seperti yang gw harapkan

Di hari yang gw tunggu-tunggu, hari dimana gw terakhir ngeles, doi memanggil gw untuk mengenalkan gw ke kolega doi yang laennya. Di satu sisi, gw seneng. Ternyata masih ada yang ngefans sama gw. Tapi di satu sisi, hati gw hancur berkeping-keping karena ini berarti doi sama sekali ga ada rasa dengan gw. Gw pun pundung dan hingga saat ini belum mandi karena sedih.

Sekian postingan pertama Stepen in Toulouse. Gw sengaja ga bikin panjang-panjang biar gw ga mabok nerjemahinnya ke versi Perancisnya.

Stepen – lelaki yang patah hati

*) Kenapa gw sebut aeronautik, bukan penerbangan? Biar orang awam ga ngira gw mau jadi pilot!

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Stepen in Toulouse: The Introduction

Beberapa bulan yang lalu, gw bertemu dengan satu-satunya pembaca dan fans fanatik blog gw yang bernama Elingselasri. Doi, selaku fans garis keras, berobsesi untuk menerbitkan blog gw yang fantastis ini sebagai sebuah buku, atau alas kaki kalo misalnya bukunya ga laku. Sayangnya, menurut doi, tulisan-tulisan gw selama ini terlalu lepas antara satu sama lain dan hampir ga ada tema yang sama yang bisa diangkat sebagai tema bukunya. Belum lagi, beberapa tulisan gw ratingnya R dan sepertinya ga layak untuk disebar ke khalayak luar tanpa kena cekal FPI. Alhasil, doi pun mengusulkan, secara gw akan segera berangkat ke Perancis untuk cari jodoh menimba ilmu, untuk membuat sebuah seri postingan khusus tentang kehidupan gw nanti di Perancis.

Tapi, secara postingan biasa hanya akan tenggelam dalam lautan blog seperti hati gw yang ditinggal kawin mantan (#curcol), gw harus bikin seri postingan ini lain daripada yang lain, dan itu adalah dengan membuat seri ini trilingual. Yes, I am going to write this post in english, french, and Indonesian. Yes, secara gw kurang kerjaan dan jomblo. So, without further ado, here it is, the first episode of Stepen in Toulouse.

Stepen di Toulouse Ep 1: Patah Hati Jelang Keberangkatan (Indonesian version)

Stepen in Toulouse Ep 1: Heartbroken Before Departure (English version)

Stepen en Toulouse Ep 1: Le Cœur Brisé Avant Le Depart (French Version)

Stepen – sok-sokan bisa bahasa Perancis

Posted in Indonesian Post, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Musibah Paket Winger

Hari ini gw sedih sekali karena ud 2 hari maen tinder tapi belum dapet match juga. Eh, bukan, bukan itu deng. Itu emang bikin gw sedih, tapi bukan itu yang mau gw ceritain di postingan ini. Yang mau gw ceritain adalah tentang gw yang sedih karena gw mengalami musibah besar hari ini. Adapun musibah ini adalah musibah yang paling ekstrim dan yang paling berat yang pernah gw alami dalam hidup gw. Saking beratnya, gw sampe perlu nonton video klipnya Astuti by Agung Hercules buat mencegah depresi mental yang ujung2nya menyebabkan gw ngelopekin cat dinding di kamar gw yang kemudian disusul dengan emak gw yang marah besar dan ngelempar gw ke tong sampah. Fiuh, panjang yah, untung ditulis, bukan diomongin.

Eniwei, fokus, Stepen, fokus.

Jadi sampe mana tadi? Oh, iya, musibah besar.

Jadi hari ini, seperti para jomblo2 bapuk pada umumnya, gw pergi ke BSD plaza buat nonton Suicide Squad. Kenapa gw pilih BSD Plaza? Simple, soalnya satpamnya ganteng. Gw yang berencana untuk nonton yang jam 17.30 ini brangkat naek sepeda dari rumah sekitar jam 15.00 dan di luar dugaan, ternyata gw sampe sana 16.00. Secara gw kepagian dan juga kesepian, gw pun memutuskan untuk makan KFC dulu, mumpung ga ada mama. And that’s when my misery starts.

Gw yang baru saja beli tiket, berjalan ke arah kasir KFC. Dalam pikiran gw saat itu cuman ada satu: Paket Super Besar 2 yang berisi 2 ayam, 1 nasi, dan 1 softdrink yang berharga 44ribu rupiah termasuk pajak. Sesampainya di depan kasir, si mbak-mbak KFC pun langsung menyapa gw dengan ramah:

“Selamat sore, mas, silahkan, mau coba paket berduanya?”

Dengan refleks sambil senyum manis ala Kim Jong Un, gw pun membalas pertanyaan doi:

“Lah, paket berdua, saya sendirian begini…”

Dan dengan polosnya si kasir merespons:

“Emang pacarnya ga diajak, mas?”

Seketika gw pun baper dan air mata pun mengalir dari mata gw (Iya iyalah, masa dari idung, itu mah ingus) dan dengan suara bergemetar menahan tangis, gw menjawab:

“Udah ninggalin saya kawin sama orang lain, mbak…”

Setelah ditenangkan mas-mas KFC yang lagi nyapu di depan kasir, gw pun kembali tenang dan langsung memesan paket favorit gw: Paket Super Besar 2 yang berisi 2 ayam, 1 nasi, dan 1 softdrink yang berharga 44ribu rupiah termasuk pajak. Kira-kira begini bunyi orderan gw:

“Mbak, paket super besar 2 yah, mbak, yang berisi 2 ayam, 1 nasi, dan 1 softdrink yang berharga 44ribu rupiah termasuk pajak… “

Dan si embak menjawab:

“Ayamnya yang original atau crispy?”

“Yang crispy aj mbak”

“Aduh, kalo yang crispy tinggal paha bawah sama sayap aj, pak…”

Seketika gw pun baper dan air mata pun mengalir dari mata gw (Iya iyalah, masa dari idung, itu mah ingus) (dan ini bukan copy paste dari kalimat yang di atas, gw ketik ulang). Untungnya dengan cepat si mbak menawarkan paket Winger yang isinya 2 sayap, 1 nasi, dan satu minum yang harganya cuman setengah dari harga paket suepr besar 2. Gw pun langsung mengiyakan begitu ngeliat kulit-kulit sayap-sayap ayam-ayam di rak pemanas yang ukurannya abnormally big. Dunia pun kembali damai. But the worst has yet to happen.

Gw pun bayar, ngambil paket winger gw, dan berjalan sambil bersiul ke arah salah satu meja yang kosong. Oke, gw boong, gw ga bisa bersiul. Sesampainya di meja, gw pun melakukan ritual standar gw saat makan KFC: naburin garem sama merica ke nasi, ngelopekin kulit ayam buat dimakan terakhir; dan kemudian makan secara normal. Setelah kurang lebih 10 menit berjalan, nasi ud tinggal seperempat, kulit ayam bertumpukan di sebelah barat daya piring, dan daging ayam hampir habis, gw secara tidak sengaja menumpahkan pepsi gw ke atas piring gw.

Seketika gw pun baper dan air mata pun mengalir dari mata gw (Iya iyalah, masa dari idung, itu mah ingus) (again, ini bukan copy paste, gw ketik ulang). Kulit ayam gw yang indah rupawan pun terguyur pepsi dan mendadak melempem. Tiba-tiba rasa excited gw yang tengah menganticipate nikmatnya kulit ayam yang gw sisihin tiba-tiba sirna. Gw mencoba untuk mencicipi kulit ayam lepek tersebut dan ternyata rasanya jadi manis, thanks to that stupid pepsi. Dan seketika nafsu makan pun hilang. Tapi karena kata mama ga boleh nyisain makanan, gw pun tetap menyantapi kulit ayam manis tersebut sampai habis.

Kira-kira demikianlah cerita sedih gw di hari Rabu ini. Sekarang saatnya nonton video klipnya Astuti by Agung Hercules untuk menghibur diri gw dari kesedihan ini.

Stepen – sedang sedih

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog | Leave a comment

Nikahan Riki dan Bau Kaki

Minggu lalu, gw ‘berpetualang’ ke Solo buat menghadiri penikahan seorang wanita yang bernama Riki (Yes, Riki is a female, Stepen on the other hand is a feminime man). Sebenernya, adalah bukan prinsip gw untuk dateng ke suatu pernikahan. Kenapa? Karena itu berarti gw harus ngasi angpaw dan angpawnya harus diisi duid, ga boleh permen. Belum lagi harus pake baju rapih, menipedi, dan cukur bulu dada demi tampil sopan pas acaranya. Repot! Alhasil, beberapa tahun ini, gw pun cukup jarang untuk hadir ke pernikahan temen2 gw, secara gw kebanyakan juga ga diundang.

Akan tetapi, Riki ini spesial. Dia adalah salah satu dari 7 manusia di muka bumi ini yg dengan sukses ngejebolin ranjang kostan gw saat gw kuliah di Bandung dulu. Ini berarti ikatan gw dengan doi sangat dekat dan haram hukumnya jika gw ga dateng ke pernikahan doi. So, walaupun nikahan doi jauh di Solo, gw tetep harus hadir ke nikahan doi buat ngasih selamat sekalian ngecek apakah suaminya ganteng atau enggak. Klo iy, lumayan buat eike colek pas ntar ngasih selamet… Aduh, gw ngondek lagi…

So, minggu lalu, gw pun bela2in pergi ke Solo. Secara gw males mesen kereta sendiri buta banget masalah kereta antar kota, plannya adalah gw ke Bandung naek travel untuk kemudian bergabung dengan tim SEMIR (Starly-Eling-Mira) untuk naek kereta api dari Kiara Condong ke Jogja. Lagian males juga klo harus sendirian di kereta ga ada temen dari Jakarta sampe Jogja (excuse, excuse, excuse). So, Gw pun madol dari sesi siang les Perancis gw dan berangkat ke Plaza Senayan dari Sarinah buat naek travel ke Bandung. Sayangnya, saat gw sampai di Ratu Plaza, hujan pun turun dengan derasnya dan gw pun terperangkap dalam dilema: nerobos ujan ke Plaza Senayan atau makan kombo super besar KFC.

Gw pun memutuskan buat menerobos hujan dan meluncur ke Plaza Senayan. Sesampainya di Plaza Senayan, hujan pun reda. Tau gitu gw makan KFC dulu tadi. Nasib.

Eniwei, akibat nerobos ujan ini, walaupun gw ga terlalu kebasahan karena cukup cekatan menghindari tetesan aer hujan, sepatu all-round gw (Iklan: baca juga postingan filosofis gw tentang sepatu all-round) dan kaos kaki gw full basah karena beberapa kali nginjek genangan aer. Dan bagi kalian temen2 yang pernah mengambil mata kuliah fisika kuantum pasti paham dengan jelas rumus berikut:

Kaki basah + Dibekep selama 4jam di dalem sepatu = Bau Naga.

Gw membayangkan saat nanti gw lepas sepatu, dari kaki gw bakal terdengar bunyi “Ryuu ga waga no teki o kurau” dan seketika 2ekor naga lepas dan meluluhlantakan semua dalam radius 100meter. Yang tambah parahnya, gw cuman bawa sepatu dan kaos kaki ini untuk nanti ke kondangannya si Riki. Menghadapi masalah ini, gw pun tetap tenang dan tanpa panik gw mengsms Eling untuk minta bantuan. Adapun isi sms itu adalah:

“Ling, tolong beliin gw sendal jepit!”

Gw genius.

Sesuai prediksi, kaki basah gw pun dibekep di dalem sepatu selama 6jam sebelum akhirnya gw meet-up dengan tim SEMIR dan masuk ke gerbong kereta. Dan hitung mundur detik-detik menegangkan pelepasan ular naga kaki pun dimulai.

Untuk meminimalisir korban, gw pun melakukan ritual pelepasan naga kaki di WC kereta Panghuripan gerbong ekonomi 5. Dengan berbekalkan tisu basah Mira, gw melepaskan naga kaki di WC dan menyegel sepatu dan kaos kaki gw dalam kantong plastik yg diiket simpul pita supaya baunya ga menyebar dari Kiara Condong sampe Jogja. Setelah beres, gw pun menghabiskan hampir setengah box tisu basah buat ngelapin kaki gw. Ternyata selain bau, kaki gw juga banyak dakinya. Ini pasti bawaan dari bokap.

Beres ritual, gw pun memakai sendal jepit yang dibeliin Eling dan semuanya aman terkendali. Secara nikahannya Riki masih hari minggu, gw berpikir klo masih ada waktu buat ngeringin sepatu dan kaos kaki gw. Tinggal dijemur pas besok sabtu pagi nyampe rumah persinggahan di Jogja dan minggu paginya gw yakin sepatu gw ud kering dan harum semerbak seperti baru mandi kembang tujuh rupa. Sayangnya, rencana gw ga berjalan mulus sesuai rencana karena tiba-tiba negara api menyerang.

Supaya ga diliat tetangga dan ga malu-maluin, gw pun memutuskan untuk menjemur sepatu bau gw di belakang rumah, di bagian yang tembus sinar matahari. Gw lupa kalau bagian yang tembus matahari ini artinya bagian tersebut ga ada atapnya. Alhasil, gw tinggalin sepatu tersebut sabtu pagi dengan keadaan basah sedang dan mendapati sepatu tersebut dalam keadaan basah banget dan gw pun panik. Tinggal 3 jam sebelum ijab kabul Riki dan gw ga punya sepatu yang layak untuk dipakai kondangan. Mama sayange…

Untungnya gw ini cerdik, cerdas, dan cermat kaya kancil yang suka mencuri timun. Dengan tenang, gw meminta Mira untuk meminjamkan gw parfum super mahal doi yang mereknya susah dibaca karena ga ada huruf vokalnya dan gw sembur parfum tersebut ke sepatu gw buat menetralisir bau sepatu gw. Buat jaga-jaga, gw sumpelin juga tissue basah antara tali-tali sepatu gw supaya ga ada korban di kondangan Riki nanti. Sementara untuk melindungi kulit kaki gw yang super sensitif, gw pun meminjam kaos kaki Eling yang ada jempolnya agar kaki gw tetap mulus kaya pahanya Julia Perez. Dan untuk memastikan bahwa sepatu gw ini ud aman dan lolos karantina, gw pun nyuruh Nope (Starly) untuk mencium sepatu selama 30 detik dan doi ga pingsan. Aman! Dan gw pun bergegas berangkat ke Solo dari rumah persinggahan yang letaknya di Jogja.

2 jam kemudian, gw pun sampai di Solo buat nonton ijab kabulnya Riki yang kemudian dilanjutkan dengan sesi resepsi. Puji Tuhan selama acara ini berlangsung, ga ada orang yang tiba-tiba jatuh pingsan saat melintas di dekat gw. Riki pun dengan sukses melangsungkan pernikahannya dengan Shufi, suaminya yang, kalau dipikir-pikir matang-matang secara lebih mendalam, ternyata tidak lebih ganteng dari gw (Jelaslah!). Well, paling enggak doii ga punya masalah bau kaki kaya gw.

So, untuk menutup postingan absurd ini, gw pengen mengucapkan selamat menempuh hidup baru buat Riki dan Shufi. Pesan gw cuman satu: rajin-rajinlah ganti kaos kaki agar kalian terhindar dari masalah bau kaki. Amin.

Stepen – punya masalah bau kaki

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog | Leave a comment

Open Farewell Letter for East Lawns’ Globals

Dear fellow zangyou warrior,

Since I am not good with farewell and alcohol and flirting, I decided to write this epic open letter as my way of saying goodbye and thank you to all of you guys. Please note that this letter is a real tear jerker and guaranteed to dry your tears out, so it is advised to read this letter while drinking mineral water to keep yourself from getting dehydrated. It is also advised to play these awesome but sad song to get yourself in the sad farewell mood. And if your Japanese still sucks big time to understand the lyrics of the song (like me), the second video is the english version of the song, so play the one that suits your nihongo level. Okay? Here goes.

As most of you already know, I am leaving our beloved company. Yes, by the time you are reading this emotional letter, I will be on my flight back to my country. It was a tough decision, but seeing the current condition where:

  • Daniel left me and get married to another girl,
  • Kiiroi-san left me and get married to another girl,
  • Reza-san left me and get married to another girl,
  • and other less-important reasons like how my current department does not wanna change and always wanna stick with the old ways, the overtime hours, and how Simon sexually harassed me lately;

I felt like I have lost all my reasons to stay. Yes, I felt lonely and left out and this situation is too depressing that I started eating massive amount of deodorant. I also started to get some serious health issues like losing my hair after I cut them off and the deterioration of my testosterone level when I am around masculine women like Angela. So, to stop further damage to this very wonderland of mine (cause John Mayer said my body is a wonderland), I decided to quit this company and return to my country as a proud jobless-man. To be honest, although I didn’t plan on staying on this company until I retired, I also didn’t plan on leaving this early. I was thinking of working for like 5-10 years here before moving on for new challenges, but sadly, the condition forced me to do so (excuses, excuses, excuses).

So, through this letter, I would like to say thank you to all of you guys, fellow globals, regardless of your batch or your country or your sexual orientation, for these awesome three and a half years. It has been a great ride and I would love to repeat those experiences all over again, except for the zangyou part. I also would like to say I am sorry to most the global girls (like 95% of them) that had a huge crush on me for not being able to return your feelings. I love you all too and I want to have all of you but sadly polygamy is still not legal, so I have to be fair and not giving any false hope to any of you. I hope you girls understand my hallucination.

For my Indonesian batchmates, thank you for the awesome adventure and the support when I was going through my divorce. Special mention for ‘abang kamar seberang’ and ‘abang kamar lantai tiga’ for all the troubles that I’ve caused you. I love you full and I am sorry for all the debt that I may or may not forgotten on purpose. 😀

For the weekend badminton club, thank you for making me a better badminton player. I started my badminton career with a skill equal to a monkey holding a racket, but now, I can play on equal level with junior high school girl or 60years old oji-san, assuming their feet were chained and their eyes covered. Shame I have to leave this country without beating the BIG BOSS first.

For the Keihin lunch club, thank you for the awesome lunch time gossip and flirting. Keep up the good work and stay noisy at lunch. And, please, whatever you do, keep your zangyou level as low as you can.

For the recent volleyball club, thank you for teaching me how to play volleyball. I used to scream like a little bitch when a ball comes to me, but now, I scream with a lot less girly voice. Thank you also for making realize my true talent: rigging the scoreboard while noone is looking. I will try tom apply that skill in my life whenever it is possible.

For the occasional futsal club, thank you for inviting me and letting me come to work out some sweat and letting me run around the field although I am pretty much useless during the game.

For the 2012 batchmates, thank you for all the togetherness within these short three years. Life in foreign country is tough, but we survived here, elegantly, with style, and like a boss. Each one of you is unique and absurd in some way or another and although I may not be that close to some of you, I will never forget you. You will forever be my (at least) facebook friend.

For my true partner in crime, my one and only oritatami jitensha that I named Natasha Kournikova Acha Acha Pahe Paket Hemat. Thank you for your service in this incredibly rough three years. You saved me a lot of money, yet I didn’t bother to oil your chain or even clean you up. You even ended up getting pounded three times. If it is legal to marry a bicycle, I would have marry you. Now you are in a junkyard somewhere in Japan after I ditched you for a cooler, bigger, stronger bicycle that a friend gave me for free but rest assured, partner, you are forever inside the treasure chest of my heart.

And for all other friends/community that I couldn’t mention above, thank you. It is not that you are less important than my oritatame jitensha or that I forgot about you. It is just that I am so sad and emotional right now that I can stop my tears and runny nose from flowing. So I have to close this post and wrap it up. Besides, I have a flight to catch tomorrow in the morning, so I have to sleep early.

As a final closing word, let me end this post by saying an old wisdom words:

Chacha maricha heyhey, chacha maricha heyhey, keep in touch and see you again in the future…

Stepen – The Quitting Salaryman

Posted in English Post, Personal Blog | Leave a comment

Homeless Day Season 2 Day 2: Hammerhead Hunt

I came to Yonaguni for two reasons: the epic underwater monument and the Hammerhead sharks. Unfortunately, it turned out that this month was not a good timing to visit Yonaguni. The epic underwater monument, which was located south of the island, was not possible for diving due to the strong south wind while the likeliness to find the hammerhead itself is low because the water was already warm. Apparently, the best time to visit is from January to March. Well, too bad but that does not stop me from diving anyway.

So, today (22 April 2016), I went on three dives with some 60 years old granpa that has better buoyancy control than me. While the dive itself was not as mesmerizing as I though it would be, you know, because we are not going to the monument, it was a different new kind of landscape that I haven’t seen before. There was this underwater rock that split in the middle, creating a path in between it that is deep enough but wide enough for you to go down and pass through it. Due to the massive rock wall height, I couldn’t help but brought myself down, exploring the path while playing Indiana Jones theme in my head while imagining there is a big boulder of rock rolling down from my back.

As for the Hammarhead shark itself, well, I was lucky for this matter. Although it was not the good time for spotting hammerhead, I did spot one hammerhead and it was up and close to me. What? You dont believe me? Well, go ahead and keep scrolling down for the picture and see for yourself that I am not lying.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Well, that’s all for today’s round up. If you excuse me, I have to watch OK-JEK and see if Asna accept Iqbal’s love.

Stepen – Rooting for Iqbal

Posted in English Post, Personal Blog, Trips and Travelling | Leave a comment