Omake: Kisah Nyata Seorang Jejaka yang Dipertemukan dengan Lelaki Impiannya di Negeri Bunga Sakura

Original Post by Dr. Sandra Pekcamkhee: Kisah Nyata; Seorang Gadis yang Dipertemukan dengan Lelaki Impiannya di Pedalaman Papua.

***

Saat keluarga besar saya mengetahui saya akan berangkat ke Kawasaki, Jepang untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Intelek), mayoritas reaksi mereka adalah kaget dan mulai menjejali pikiran saya dengan berbagai macam hal, dari yang bener sampe ke yang bener-bener ga bener.

“Di sana kan susah, mereka pakai tulisan kanji.”

“Di sana kan makanannya mahal semua, nanti kamu makin kurus.”

“Awas jangan keseringan beli Gundam.”

“Nanti kalo pulang ke Indo, jangan lupa bawain Sora Aoi yah.”

Kedengarannya memang absurd, tapi itulah kenyataannya. Saya sendiri tidak terlalu kuatir. Saya yakin Jepang sudah sangat berubah dan tidak seperti yang dibayangkan orang-orang. Sora Aoi, contohnya, udah ga jaman lagi. Sekarang yang lagi naik daun adalah Emiri Suzuhara atau Tsubasa Amami (bagi yang tidak mengerti siapa mereka, ada baiknya anda tidak menggoogle siapa mereka). Saya juga tidak terlalu sering beli Gundam di sana, hanya seminggu sekali dan harga-harga juga tidak terlalu mahal, jikalau kita mau menunggu makanan nyaris basi yang dijual menjelang supermarket mau tutup. Adapun justru yang menjadi kekuatiran utama adalah saya adalah pacar (yang sekarang sudah istri . . . . . . orang lain)

Bahkan saya juga bingung kenapa di postingan original, bagian ini dibikin semacam quote padahal harusnya nyambung aj dengan paragraph sebelumnya.

Saya tiba di Jepang bulan November 2012 dengan sekitar 10 TKI lainnya. Setibanya disana, kami diberi nomor seri dan dicap tapal kuda di bokong supaya ga ilang diambil orang. Saya pun berkenalan dengan salah satu TKi lainnya yang bernama Alvi (bukan nama sebenarnya). Dia lebih muda 2 tahun dari saya, lulusan salah satu universitas di Jogja yang kalah jauh sama ITB (peace, Vi :D). Kesan pertama saya tentang dy sangat baik. Penampilannya rapih dan orangnya ramah dan tidak marah jika saya colek bokongnya.

Ternyata kami sama2 beragama Blopiandihkan (Jomblo kesepian dan menyedihkan) dan suka naik gunung biar terlihat macho sama cewek. Alhasil, kamipun beberapa kali naek gunung bersama dia. Saya suka dengan dia, dia cerdas dan tidak kecentilan seperti saya. Saya pun tahu dia menyukai saya (Asek, pede). Sayangnya, kami mulai jarang bertemu karena jam lebur kami yang cukup intens. Saat saya berangkat ngantor, doi masih tidur, dan saat saya pulang kantor, doi masih ngantor. Alhasil, frekuensi pertemuan kami pun jadi berkurang. Dari pertemuan rutin setiap hari menjadi pertemuan mingguan yang itupun biasanya terjadi gara2 gw mau minta Indomi doi.

Sampai suatu hari dia memberikan saya makanan gratis yang doi salah beli dan tidak bisa makan karena mengandung senyawa TiPaTKaY. Di sanalah dia bertanya apakah saya mau makan makanan salah beli tersebut dan berharap untuk mengenal saya lebih jauh. Pasti tidak romantis buat sebagian orang, mau PDKT tapi malah ngasih makanan salah beli. Tapi bagi saya ini justru ekonomis sekali, ada berkah dalam kepelitan. Saya tidak langsung menjawab saat itu juga, memang saya suka makanan tersebut, tapi gengsi dong.

Saya tidak langsung menjawab iya karena gengsi dan harga diri saya yang sangat tinggi, namun semakin hari saya semakin melihat bahwa makanan2 tersebut nyaris kadaluarsa dan akhirnya saya mengiyakan tawaran doi. Dari sinilah hubungan hibah-menghibahkan makanan salah beli pun dimulai.

Sayangnya, hubungan hibah-menghibahkan kami di Jepang tidak seperti layaknya pasangan-pasangan lain di kota besar. Seperti yang saya ceritakan, makanan yang diberikan adalah makanan salah beli, jadi kalau Alvi ga salah beli makan, saya pun gagal makan gratis.

Tiga tahun kemudian, setelah gw pergi meninggalkan Jepang, Alvi pun kehilangan orang untuk dihibahkan makanan salah beli, namum akhirnya mendapatkan jodoh yang lebih soleha dari gw. Doi pun melepas status BloPianDihkan doi.

Jadi buat sahabat-sahabat pembaca setia blog absurd ini yang masih takut sulit dapat jodoh, ingatlah kisah saya. Optimislah bahwa kalian bisa dapat sumbangan makanan gratis darimanapun. Semoga berhasil!

Tulisan ini dipersembahkan untuk merayakan 1 tahun pernikahan mantan saya 17 Januari yang lalu.

***

Advertisements
Posted in Indonesian Post, Omake, Personal Blog | 1 Comment

Omake: Curhatan Hati Kami Anak Penerbangan

Dulu, seorang teman cerita ke gw kalau doi mau nyoba nulis dan akhirnya gw pun mencoba memfasilitasi dengan memberikan doi akses untuk nulis di blog ini, yang followernya udah berjuta-juta. Alhasil, doi pun mempublish postingan pertama doi yang gw beri seri tersendiri berjudul Catatan Dokter Spesialis Malpraktek. Sayangnya baru nulis postingan introduction, doi hilang ga ada kabar kaya wanita2 lain pada umumnya setelah seminggu kenal sama gw dan akhirnya serial tersebut pun terbengkalai. Tiba-tiba, 2 tahun kemudian, which is hari ini, doi muncul kembali dan ternyata sudah eksis jadi seorang penulis di website ajubile yang namanya sama kaya bunyi orang cegukan: hipwee.

Gw selaku bos doi pun merasa dihianati dan gw merasa perlu untuk membalas dendam ke doi, karena doi dengan tidak tahu malunya meminta gw untuk men-share article doi. Sebagai sesama penulis, ini hinaan besar bagi gw. Bayangkan kalau anda pergi ke dokter gigi dan tiba-tiba sang dokter gigi make masker karena anda lupa gosok gigi. Pasti malu bukan?

Jadi, dalam rangka balas dendam dan bukan karena gw kehabisan ide untuk nulis di blog gw, maka gw memutuskan untuk membuat ‘omake’ dari setiap postingan doi di hipwee. Bagi yang ga tau apa itu omake, kurang lebih konsepnya sama kaya re-make lah. Hanya saja akan gw sesuaikan dengan kondisi gw instead of kondisi doi. Tentu saja untuk mencapai titik optimum kegaringan postingan ini, pembaca harus terlebih dahulu membaca postingan original doi, share postingan original doi di facebook, dan kemudian baca postingan versi omake gw sambil menyeruput Milo hangat.

So, without further ado here it is, the omake.

***

Original Post by Dr. San Cicongfan: Curahan Hati Kami, Anak Jurusan Kedokteran.

***

“Kuliah dimana, mbak, eh, mas?”

“Di ITB, bu, jurusan Teknik Penerbangan.”

“Oh, mau jadi pilot yah?”

“Bukan, bu, saya engineernya, yang bikin pesawatnya.”

“Oh, mau jadi kaya Habibie yah?”

“Ga, bu, cita-citanya sih mau jadi kaya Channing Tatum, tapi tampang beda tipis.”

Kira-kira demikianlah percakapan yang sering saya alami saat disamperin orang yang dari pakaian dekil saya langsung bisa menebak kalau saya ini mahasiswa rendahan. Sekali, dua kali mengalami percakapan seperti ini, saya masih bisa menanggapi dengan senyum manis, tapi setelah hampir tiap bulan mengalami percakapan seperti ini sekitar 34 kali (Ya, saya menghitung dengan seksama tiap kali percakapan seperti yang di atas terjadi), rasanya pengen lompat dari Grand Canyon sambil teriak “Cicongfan!”

Saya hampir selalu bisa menebak dengan tepat apa pertanyaan berikutnya yang akan disampaikan. Ingin rasanya saya merekam jawaban-jawaban saya dan memutarnya bila ada orang yang bertanya pertanyaan yang itu-itu lagi. Saya cukup yakin rekan-rekan sesama insinyur teknik penerbangan juga mengalami hal serupa. Yang lebih menjengkelkan, seringkali percakapan ini tidak hanya kami dapatkan dengan orang asing, tetapi bahkan ditanyakan oleh keluarga kami sendiri. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat kami seringkali mendapat cap sombong dari orang lain karena kami seakan-akan tidak tertarik untuk bicara dengan orang lain.

Setelah merenungkan dan menganalisa lebih lanjut mengapa percakapan serupa ini selalu terulang terus, saya menyimpulkan bahwa hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang jenjang pendidikan teknik penerbangan.

(Okeh, gw ngaku, 2 paragraph ini gw copas persis dari narasumber karena gw bingung mau diplesetin dimananya).

Pertama, yang perlu diketahui sebagai prinsip awal adalah bahwa insinyur teknik penerbangan berbeda dengan pilot. Mereka sejak awal sudah mengambil pendidikan yang berbeda. Insinyur kuliah di universitas, pilot sekolah di sekolah pilot, saya di rumah, nyuci baju. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan seorang pilot lanjut kuliah untuk jadi insinyur ataupun sebaliknya.

Pilot memiliki spesialisasinya sendiri dan insinyur teknik penerbangan pun demikian. Walaupun demikian, kalau sakit gigi, kedua profesi tersebut harus tetap pergi ke dokter gigi, bukan ke dokter umum, apalagi mantri sunat. (Okeh, gw garing).

Kedua, saya akan mejelaskan sistem pendidikan di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Bagian ini bakalan boring banget kaya postingan originalnya, jadi bagi kalian yang ga betahan, silahkan skip langsung ke bagian akhir.

Saya mulai kuliah teknik penerbangan tahun 2005, dengan status jomblo. Tahun 2009, saya lulus, masih dengan status jomblo. Tahun 2010  saya melepas status jomblo saya, namun 4 tahun kemudian saya harus meratapi nasib dan kembali berstatus jomblo. Berbeda dengan pilot, lulus dari sekolah, kami tidak memiliki pilot license. Jadi, kami bisa bekerja jadi apapun yang kami mau, mulai dari insinyur teknik penerbangan, MT di bank, sampe ke jadi pedagang jamu, tapi tidak bisa sebagai pilot. Beberapa sekolah di luar negeri, seperti sekolah saya saat ini di ISAE, memiliki fasilitas pelatihan yang memungkinkan muridnya untuk mengambil private pilot license yang mana sangat berguna untuk menambah perspektif kami sebagai insinyur. Walaupun demikian, untuk menjadi pilot airline, sekolahnya biasanya berbeda dan lebih spesifik.

Jadi, jika anda bertanya, saya menjawab saya kuliah teknik penerbangan, ketahuilah bahwa saya adalah bukan pilot. Jika saya menjawab saya tidak mau ikutan MLM, janganlah juga memaksa-maksa saya. Karena kata Tora Sudiro, lebih baik jadi gigolo daripada ikutan MLM.

Demikian penjelasan dari saya, semoga bisa mencerahkan sahabat-sahabat Hipwee sekalian. Sekali-sekali tanyalah kepada kami tentang hal-hal menarik dari profesi atau suka duka kami menjadi insinyur teknik penerbangan, daripada hanya bertanya pertanyaan yang mainstream dan membosankan. Mohon jangan menyalahkan kami juga jika saat itu baru terjadi kecelakaan pesawat karena most likely we have nothing to do with it. Instead, you can ask yourself why you abuse the overhead cabin luggage or why you can’t wait until the airplane is completely stopped and the seat belt sign is off before getting off your seat :D.

Kami sebenarnya sama dengan kalian. Sama-sama bertanggung jawab di bidang masing-masing, lalu mengemban amanah dari orang tua serta masa depan diri sendiri. Please, jangan menganggap kami ini istimewa, karena kami memang tidak istimewa. Gaji kami jauh lebih kecil dibandingkan pilot dan kami kemana2 tidak dikelilingi pramugari yang dasternya sobek sampe pangkal paha. Walaupun demikian, we will do it anyway because we think it is the second most awesome job in the world, right after baby panda caretaker.

***

Okeh… Demikianlah kira2 postingan gw. Terima kasih kepada San2 atas penghianatannya dan semoga sukses berkarir di situs yang namanya sama sama kaya bunyi orang cegukan.

Posted in Indonesian Post, Omake, Personal Blog | 1 Comment

Stepen in Toulouse Ep 10: Kado Ultah

Okeh, sebelum gw memulai postingan ini, gw pengen mengemukakan terlebih dahulu 2 hal yang sangat penting. Yang pertama, gw rasa ud cukup safe untuk mengatakan dengan ini postingan serial Stepen di Toulouse yang awalnya gw rencanakan untuk trilingual (biasa, anak muda kebanyakan gaya) akan balik ke monolingual aj. I barely have the time to juggle my study, my games, and my imaginary girlfriend, jadi kayanya ga mungkin gw ada waktu buat nerjemahin tiap postingan ke bahawa Inggris, apalagi bahasa Perancis. Yang kedua adalah, gw pengen tekankan bahwa postingan ini adalah episode yang ke 10, bukan episode yang ke 9. Adapun episode terakhir sebelum episode ini rilis adalah Stepen di Toulouse episode 8 dan episode 9 memang sengaja gw pengen tulis belakangan, biar keren dan berasa plot twistnya, cem pelemnya Christopher Nolan. Okeh, mari kita mulai postingan ini.

Para penggemar setia gw tentunya tahu kalau tanggal 31 Desember kemaren gw ultah (Yang belom ngucapin selamat, buruan ngucapin! Ada undian berhadiah uang tunai yang bisa kamu dapatkan!). Secara gw jomblo, tentu saja ga ada cewe yang ngasihin gw kado ultah, jadi supaya hidup gw ini ga madesu2 banget, adalah tradisi gw untuk membelikan diri gw sendiri kado sesuatu yang mahal lengkap dengan kartu ucapan selamat yang gw tulis sendiri buat gw (Sedih ga tuh…). Adapun taon ini, gw bermaksud buat membelikan diri gw sendiri Lego SHIELD Helicarrier. Bagi yang ga tau apa itu, berikut adalah bentuknya lego SHIELD Helicarrier. Mahal sih, 350 euro cuman buat maenan dablek kaya begini. Klo nyokap gw tau, gw yakin gw pasti dicoret dari akta kelahiran. Tapi gapapalah, itung2 hadiah karena gw ud tekun belajar selama 3bulan ini di Perancis.

But then, kita sebagai manusia tidak bisa melawan sifat bawaan lahir kita.

Sebagai seorang berketurunan Tionghoa yang suka cebok pake tangan kanan, gw ini memang pada dasarnya pelit. Saking pelitnya, 2 menit 30 detik setelah gw order maenan lego tersebut di Amazon, gw langsung cancel sendiri. Yes, persis kaya waktu gw di Jepang dan mau beli Lego Mindstorm. Gw pun jadi berpikir: Kasian banget yah cewe yang nanti jadi istri gw.

So eniwei, sedikit depresi karena ngecancel orderan lego tersebut, gw pun mencoba untuk mencari konsolidasi. Sesuatu yang bagus bikin gw bahagia, tapi murah.

Gw pun berpikir keras sampe akhirnya ketiduran. Bangun2 gw pun mendapatkan pencerahan.

Dengan melakukan metode root cause analysis alias naze naze bunseki, gw pun berkesimpulan bahwa semua yang menyedihkan ini adalah asal muasalnya adalah karena gw jomblo. Dengan mengobati kejombloan gw, yang adalah akar dari seluruh masalah laki-laki di dunia ini, gw bisa mengobati kesedihan gw dan menjaga perdamaian dunia. So, gw memutuskan untuk serius nyari jodoh setelah kurang lebih 2 taun ini gw terus-terusan berpura-pura untuk pura-pura udah move-on ke semua orang, supaya orang pikir gw itu pura-pura pura-pura move-on, padahal sebenernya gw pura-pura pura-pura pura-pura belum move-on.

Secara gw ini sekarang di Perancis, tentu saja prosedur mencari jodoh ga bisa mengandalkan koneksi mak gw yang lebih hebat dari jaringan intel FBI. Gw harus mencari jodoh ala ‘barat’: ke bar, bersosialisasi, dan akhirnya mendapatkan cewe rabun ayam untuk gw kibulin. Dan untuk melakukan semua hal ini, tentu saja gw yang notabenenya newbietolnget butuh bantuan seorang teman untuk jadi wingman gw. Dan secara untuk mendapatkan seorang wingman yang baik untuk membantu gw mendapatkan jodoh ini, gw sendiri juga harus terlebih dahulu menbuktikan bahwa bahwa gw adalah seorang wingman yang baik dan benar, walau kalo ngupil suka kedaleman. Dan untuk menjadi seorang wingman yang baik, hanya ada satu kado yang cocok buat gw:

The Bro Code, bonus jempol cangcing gw!

Ga pake lama, gw pun langsung ngorder buku tersebut dan hari ini buku tersebut nyampe. Tentu saja, mengikuti trend manusia2 masa kini yang ngeposting foto makanannya di instagram sebelum mereka makan, maka gw pun menulis postingan ini, agar semua dunia tahu bahwa sebentar lagi akan jadi seorang wingman yang handal.

Jadi, demikianlah postingan episode ke 10 Stepen di Toulouse ini yang gw siasiakan demi pamer buku baru gw. Tentu saja setelah ini, gw akan buka jasa wingman untuk membantu teman2 lelaki yang senasib sependeritaan dengan gw. Bagi mereka yang butuh bantuan, please, jangan sungkan. I am here to help.

Stepen, Calon Nominasi Best Wingman 2017

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | 1 Comment

LPDP, ISAE, and How to Make It Work?

Okeh, secara ternyata cukup banyak yang nanyain gw tentang ISAE, LPDP, dan tetek bengek di antaranya, gw memutuskan untuk menulis postingan khusus buat menjelaskan hal-hal ini, biar kalo ada yang nanya lagi bisa gw refer langsung ke halaman ini. Yang nanya puas pertanyaannya terjawab dan gw pun puas karena dapet traffic (Gaya). Supaya ga membosankan, gw akan mewawancarai diri gw sendiri lalu menuliskan transkripnya di postingan ini dengan diselingi foto-foto seksi gw, biar kaya format majalah FHM. Okeh, mari kita mulai.

***

Stepen: Selamat malam, pak Stepen.

Stepen: Selamat malam, dek.

Stepen: Sebelumnya terima kasih atas kesediaannya untuk diwawancarai. Saya tahu bapak saat ini sedang sibuk maen Overwatch dan menunggu jodoh yang tak kunjung datang namun bapak tetap meluangkan waktu bapak untuk diwawancara. Sekali lagi, terima kasih, pak.

Stepen: Iya, tidak apa2, saya juga senang bisa berbagi informasi bagi adik-adik saya yang saat ini sedang tersesat di luar sana.

Stepen: Oke, mari kita mulai, pak. Saat ini bapak sedang berkuliah di ISAE, betul, pak?

Stepen: Iya, benar.

Stepen: Bapak mengambil jurusan apa di ISAE, pak?

Stepen: Saya saat ini terdaftar dalam program Advanced Master TAS Aero – option Flight Test Engineering (FTE).

Stepen: Wah, panjang yah pak, nama jurusannya?

Stepen: Yah, kira-kira begitu.

Stepen: Kalau boleh tau, apa yang bapak pelajari di program ini, pak?

Stepen: Gampangnya, saya belajar tentang uji terbang alias flight test dan detail-detail di dalamnya, seperti prosedur uji terbang, teknis instrumentasi, pengolahan data, dan sedikit tentang human factor.

Stepen: Apa yang membuat bapak tertarik untuk mengambil program ini?

Stepen: Karena titlenya keren. Coba anda bayangkan, anda berkenalan dengan orang lain, salaman dan berkata, “Stepen, Flight Test Engineer,” sambil menggal menggol, dijamin para tante-tante pada kelepek2.

Stepen: Lalu apa bedanya program Advanced Master ini dengan program MSc biasa?

Stepen: Yang paling fundamental adalah program MSc ini durasinya 2 tahun, sementara Advanced Master hanya setahun. Jumlah kaum hawa di program Advanced Master juga lebih sedikit karena pesertanya lebih sedikit. Biasanya, program2 yang ditawarkan Advanced Master juga lebih spesifik, seperti saya Flight Test Engineering. Selain itu ada juga Advanced Master seperti:

  • Aircraft and Helicopter Engineering (disingkat AHEY)
  • Advanced Manufacturing Process for Aeronautical Structure (disingkat AMPAS)
  • Aeronautical Maintenance and Support (disingkat AYO MAS)
  • Aerospace Project Management (disingkat AYO PEM)
  • Master in Embedded System (disingkat MEMS)
  • dan lain-lain

Stepen: Banyak yah, pak, kok apal?

Stepen: Kalau genius, memang BEDA!

Stepen: Siapa, pak?

Stepen: Siapa nanya?

Stepen: Ah, bapak bisa aj… Oke, pak, kembali ke laptop. Bapak bersekolah di ISAE ini dengan dibiayai LPDP, benar begitu bapak?

Stepen: Benar. Biar kutuan begini, kata temen seangkatan LPDP saya, kita2 ini jomblo yang dibiayai negara. Sungkem kamu!

Stepen: <sungkem lalu lanjut bertanya> Kalau boleh tau, bagaimana ceritanya detailnya, pak? Mungkin bisa di-share?

Stepen: Boleh. Tapi ini ceritanya panjang, saya ke WC sebentar yah.

Stepen: Silahkan, pak.

Stepen: Tapi kamu ga usah ikut.

Stepen: Oh, maaf, pak, kebiasaan.

Stepen: <ke WC, pipis sambil maen Plant vs Zombie buat nungguin pipisnya beres, lalu kembali diwawancara>

Stepen: Maaf, pak, itu resleting belum ditutup.

Stepen: Oia, lupa, maaf, maklum, udah berumur.

Stepen: Kok pesing yah, pak?

Stepen: Oia, maaf, saya juga lupa nge-flush. Sebentar ya, dek. <ke WC, nge-flush, lalu kembali diwawancara>

Stepen: Jadi bagaimana, pak, ceritanya?

Stepen: Jadi, sebenarnya di akhir tahun 2014, saya iseng mendaftar ke ISAE dan Cranfield dan di awal tahun 2015 saya dinyatakan diterima di keduanya dan mendapatkan LoA dari kedua universitas tersebut. Nah, 14 Febuari 2015, Valentine Day, tapi saya jomblo, jadi daripada saya bengong-bengong aj di kamar dan ujung2nya depresi, saya pun apply LPDP dengan modal LoA dari kedua universitas tersebut.

Stepen: Kenapa bapak mendaftar ke kedua universitas tersebut, pak?

Stepen: Sebenarnya, tujuan utama saya adalah ISAE, karena wanita Perancis lebih manis. Namun karena ISAE tidak ada di daftar universitas yang diakui LPDP, saya pun memutuskan untuk daftar ke Cranfield juga, sebagai cadangan in case LPDP tidak menyetujui ISAE sebagai kampus pilihan saya. Sebenarnya Cranfield sendiri juga tidak ada dalam daftar universitas LPDP, namun karena sudah ada beberapa orang sebelum saya yang berhasil mengajukan perpindahan universitas ke Cranfield, saya pun memilih Cranfield sebagai cadangan saya. Adapun karena kedua pilihan universitas ini tidak ada dalam daftar LPDP, saya menginput University of Manchester ketika mendaftar LPDP.

Stepen: Oh, seperti itu, pak. Lalu bagaimana cerita selanjutnya?

Stepen: Proses aplikasi berjalan normal seperti biasa. Setelah beberapa bulan, saya dipanggil untuk interview LPDP dan di interview itu saya jelaskan tentang masalah pelik pindah kampus ini. Saya juga jelaskan saat interview tentang ISAE dan tentang kenapa saya kalau jalan agak ngondek. Mereka pun maklum saya ngondek dikit dan puji Tuhan, saya lolos seleksi dan mengikuti persiapan keberangkatan alias PK yang diwajibkan oleh LPDP. Untuk mengikuti PK ini, saya pun madol seminggu dari pekerjaan saya di Jepang. Selesai PK, saya kembali ke Jepang dan leher saya pun digaruk boss.

Stepen: Lalu bagaimana proses pengajuan perpindahan universitar?

Stepen: Prosesnya sulit.

Stepen: Sulit bagaimana, pak?

Stepen: LPDP mensyaratkan kita untuk mendapatkan LoA terlebih dahulu dari kampus tujuan kita. Setelah mendapatkan LoA dari ISAE, selanjutnya saya membuat surat permohonan perpindahan universitas yang disertai juga 2 surat rekomendasi tentang ISAE dan program studi pilihan saya. Surat rekomendasi yang pertama adalah dari Kedubes Perancis di Jakarta dan surat yang kedua adalah dari bapak TM, dosen saya yang juga kebetulan lulusan ISAE.

Stepen: Lalu bagaimana, pak?

Stepen: Permohonan saya ditolak.

Stepen: APA? KENAPA? KENAPA?

Stepen: Tenang, dek, jangan emosi dahulu. Adapun LPDP menuntut surat rekomendasi tambahan yang ditulis oleh professor di bidang penerbangan dan pakar professional di bidang penerbangan. Sebenarnya, saya sendiri sudah menghubungi 2 orang yang saya tahu adalah professor di bidang penerbangan. Adapun kedua orang tersebut adalah ISP dan HD, sayangnya e-mail saya tidak dibalas.

Stepen: Lalu, saya dengar, ada cerita lucu terkait tuntutan surat rekomendasi ini oleh LPDP.

Stepen: Bukan cerita lucu, kalau bilang cerita lucu, nanti saya didemo lagi. Intinya saya bertanya kepada LPDP, pakar penerbangan yang diinginkan LPDP untuk menulis surat rekomendasi itu seperti apa? Dan mereka mereply, bapak BJ Habibie. Kontan saya pun melongo saat membaca e-mail balasan tersebut. Siapa saya sampe berani minta surat rekomendasi ke pak Habibie. Orang sesibuk beliau, mana mungkin sempat menulis surat2 rekomendasi seperti ini. Apalagi, saya pun tidak punya koneksi ke beliau. Yang saya punya hanya koneksi ke abang2 Batagor Aloy. Saya pun depresi.

Stepen: Lalu bagaimana selanjutnya, pak?

Stepen: Untungnya waktu itu ada Spongebob maen di TV, saya nonton dan seketika saya pun semangat lagi. Saya pun meminta bantuan dosen saya, bapak TM, untuk mengenalkan saya dengan seorang pakar penerbangan yang lulusan ISAE juga. Beliau mengenalkan saya kepada bapak AP dan singkat cerita saya pun mendapatkan surat rekomendasi dari bapak AP. Di tengah e-mail2an dengan bapak AP, saya juga iseng menghubungi bapak Ilham Habibie yang kontaknya saya dapatkan dari junior saya. Iseng-iseng berhadiahlah, pikir saya waktu itu. Di luar dugaan, beliau membalas e-mail saya, menanyakan kualifikasi saya dan setelah membaca CV saya, beliau pun menyatakan bersedia menulis surat rekomendasi untuk saya. Saya pun bangga ular naga panjangnya bukan kepalang, karena saya merasa setidaknya kualifikasi saya diakui orang sebagul beliau. Setelah itupun saya makan KFC 5 hari berturut-turut untuk merayakan kemenangan ini. Seminggu kemudian, saya pun jatuh miskin.

Stepen: Lalu apakah kemudian permohonan perpindahan universitas tersebut diterima?

Stepen: Tentu saja… Dengan 4 surat rekomendasi tersebut, LPDP pun menyetujui perpindahan universitas saya ke ISAE dan sisanya hanya tetek bengek biasa seperti tanda tangan kontrak, pendaftaran akun Simonev untuk transfer2 duid, dan bantu2 komunikasi LPDP-ISAE untuk pelunasan tuition fee. Semuanya pun lancar, kecuali kehidupan percintaan saya.

Stepen: Lalu bagaimana kelanjutannya, pak?

Stepen: Selanjutnya, ya seperti yang adek lihat, saya di Toulouse, kota pusat teknologi penerbangan Eropa, untuk berkuliah sekaligus cari jodoh.

Stepen: Ada pesan mungkin untuk junior2 bapak yang ingin menyusul bapak ke Perancis?

Stepen: Tidak ada.

Stepen: Masa tidak ada? Sedikit saja.

Stepen: Ya, intinya adalah pantang menyerah aj. Walau ditinggal kawin sama mantan, tetap pantang menyerah ngestalkerin mantan.

Stepen: Okeh kalau begitu, terima kasih sekali bapak Stepen atas waktunya untuk diwawancarai. Terima kasih atas waktunya dan good luck untuk studinya dan semoga lekas dapat jodoh.

Stepen: Iya, sama-sama.

***

Fiuh, kira-kira demikianlah wawancara gw dengan diri gw sendiri. Semoga bisa berguna bagi yang membutuhkan. Kalau kalian ada pertanyaan tambahan, monggo disimpan saja dalam hati atau ditanyakan langsung via komen. Sekarang saatnya gw tidur cantik demi perut six pack. Salam Goyang!

Stepen – Jomblo yang dibiayai Negara

Posted in Indonesian Post, My Weird Thoughts and Opinions, Personal Blog | 3 Comments

Stepen di Toulouse Ep 8: Stalker’s Bible Club

Karena isu penistaan agama saat ini lagi hot, sebelum memulai postingan ini, gw pengen menekankan terlebih dahulu bahwa judul postingan tersebut tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan atau menistakan atau menjelek-jelekkan kitab suci dari agama manapun. Judul tersebut murni muncul dari spontanitas kepala lonjong gw yang miring 135 derajat ke kanan saat gw mulai menulis. Ga ada maksud untuk cari ribut, karena saat ini gw hanya cari jodoh (dan recehan untuk bertahan hidup).

Okeh, mari kita mulai.

Awalnya cerita ini dimulai dari gw yang mendapatkan semacam brosur untuk bergabung dengan sebuah bible club, sebuah klub dimana para anggotanya duduk manis membentuk lingkaran (atau jajar genjang, terserah) dan membaca Alkitab. Secara gw ini golongan darahnya B, adalah haram hukumnya bagi gw untuk ikut yang begini-beginian. Gw lebih prefer menghabiskan waktu gw ngeyutub dan nontonin ulang adegan Ari Kriting nembak Candil di Comic 8 sampe gw apal dialognya si Ari (Bagi yang mau liat, ini linknya Ari Kriting nembak Candil). So, singkat cerita, gw ga tertarik.

Gw lupa gw dapet brosur ini kapan darimana tapi brosur ini ud ada di kamar gw mungkin sejak 2 bulan yang lalu dan baru gw buang kurang lebih bulan lalu karena ud gw pake jadi kertas oret2an. Beberapa minggu berselang, di suatu siang hari yang indah di lab komputer, gw yang sedang bengong mikirin cara baru buat ngupil tanpa pake tangan sendiri ini pun disamperin laki-laki tampan setengah baya yang demi perlindungan hak-hak dunia digital akan gw beneran samarin namanya kali ini. Sebut saja doi Ngutiyem-yem-tut. Ngutiyem memperkenalkan dirinya dan to the point langsung mengajak gw untuk ikutan bible club dan memberikan brosur yang sama ke gw. Yang menarik adalah doi ga terlebih dulu nanyain agama gw apa dan langsung maen ngundang gw aj. Man, kalo ini di Indonesia, gw yakin ud bakalan demo besar-besaran (hahaha). Anyway, setelah berbincang sebentar, doi pun menjelaskan detail tentang pertemuan tersebut. Setelah 10 menit ngangguk2 kaya kambing jantan yang dicocok hidungnya, doi pun meninggalkan gw dengan harapan bahwa gw akan join. Kenapa gw tau doi berharap gw join? Bulu idungnya nge-thrill (Copyright: Dodit Mulyanto).

Beres nge-PHP-in Ngutiyem, 2 minggu lalu, jalan gw kembali berseberangan dengan doi. Kali ini, ceritanya gw lagi ada flight test jam 8 dan lagi nunggu temen gw di lab computer buat ngejemput gw (Sampe di Perancis pun, gw masih tetep suka nebeng). Waktu itu sekitar jam 7.30, langit masih gelap dan lab masih sepi. Ngeliat gw yang bengong-bengong nyaris kesurupan, doi pun nyamperin gw buat ngajakin gw masuk bible club. Menariknya, doi lupa kalo doi ud pernah ngajak gw. Cih, sebegitu biasanyakah tampang gw? Gw pun yang waktu itu masih 1/3 sadar males ngejelasin klo doi ud pernah nawarin gw dan hanya merespons omongan doi dengan ngangguk2 kaya kambing jantan yang dicocok hidungnya. 10 menit berselang, doi pun meninggalkan gw dan gw pun bernafas lega.

Again, ternyata jalan gw kembali berseberangan dengan Ngutiyem. Kali ini cukup extreme dan hampir melibatkan adegan tabrak lari. Yeah, I mean it.

Jadi ceritanya, hari sabtu minggu lalu, gw pergi naek sepeda ke Lidl buat nyetok makanan favorit gw: tagliettes carbonara instant dan cordon blue instant bapak Dodu. Sesuai SOP gw pergi ke Lidl naek sepeda dan untuk mencapai Lidl, gw harus melewati kampus tetangga yang namanya INSA. Di INSA, gw harus melewati satu jalan setapak yang lebarnya sekitar 1.2731 meter. Saat gw hendak melewati jalan setapak ini, gw melihat 3 orang sedang bagi-bagiin brosur. Gw melihat dua dari 3 orang tersebut ngajak ngomong orang yang lagi lewat sementara yang satu lagi nganggur. Gw pun memacu sepeda gw dan berjalan agak di sebelah kiri, berusaha menjauh sejauh mungkin dari 3 pria brosur ini supaya ga diajak ngomong. Di luar dugaan, si pria nganggur ini ngeliat gw yang minggir ke kiri dan seketika memasang badannya demi berbicara sama gw. Gw sampe harus ngerem ngepot2 sampe jalannya item2 demi ga nabrak doi. Andai sepeda gw yang sekarang ini sama kaya sepeda gw yang di Bandung yang menganut sistem Brakeless dan Rem Kaki, gw yakin saat ini pasti doi ud di UGD.

Dan di luar dugaan, ternyata pria brosur ini adalah si Ngutiyem-yem-tut. And he still didn’t remember me.

So, ibarat deja vu (Wow, I am finally using proper French now), gw pun kali ini harus mengulang mendengarkan lagi semua penjelasan si Ngutiyem. Yes, bagi yang maen Overwatch, ini ibaratnya Tracer mau masuk lobang buaya, pake skill ‘recall’, terus ujung2nya masuk lubang buaya lagi. Seperti 2 pertemuan sebelumnya, gw pun hanya ngangguk2 kaya kambing jantan yang dicocok hidungnya selama doi menjelaskan. Namun berbeda dengan 2 pertemuan sebelumnya yang mana gw memberikan jawaban ambigu which is “I don’t know, we’ll see…”, kali ini gw memutuskan untuk memberikan jawaban tegas dan berwibawa “I can’t do Tuesday night this week, I have test on Wednesday.”, dan dengan spontannya Ngutiyem mereply begini:

“Okay, then what about your test for the eternal life? We should prepare ourselves for the eternal life.”

Mendengar ucapan ini, gw pun seketika menitikkan aer mata gw, bertobat, dan kemudian menutuskan untuk tidak belajar di hari selasa malam untuk test gw di hari rebu dan dateng ke bible club tersebut. #sarcasm

Seriously, his reply left me speechless for a bit there. Gw sendiri saking shocknya gw lupa ngejawab apa ke doi dan gw ga inget how did I get the hell out of that situation alive. Terus terang, gw curiga doi adalah agen professional yang disewa nyokap gw untuk bikin gw taubat dan setelah dipikir2 lagi, 3x ketemu di kampus dan Toulouse yang begitu gede ini bener-bener suatu kebetulan yang diragukan kebetulannya. Gw makin yakin kalo doi adalah stalker yang disewa mak gw agar gw kembali ke jalan yang benar. Sejak malam itu, gw pun selalu mengunci kamar gw sebelum gw tidur.

Aniwei, puji Tuhan, hingga postingan ini diturunkan, gw belum ketemu doi lagi. Gw hanya berharap nyokap gw kehabisan duid buat bayar si Ngutiyem so that he can leave me alone.

Stepen – seneng akhirnya ada yang ngestalkerin

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Stepen di Toulouse Ep7: Balas Dendam Pilot

Di episode 6, gw dengan bangga menceritakan ke kalian semua bahwa sebagai FTE, adalah tugas gw buat nyuruh2 pilot. Klo ibaratnya lagu anak-anak, gw sebagai FTE tu kira-kira seperti duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya. Apparently, supaya para FTE ini ga gede rasa, program studi gw memutuskan untuk memberikan gw (dan anak2 FTE laennya) satu sesi dengan simulator kampus. Adapun tujuan dari sesi simulator ini adalah untuk membenamkan ego kami sedalam-dalamnya agar kami tau seberapa sulit perkerjaan pilot untuk melakukan ‘stabilization’ dan manuver2 laennya saat flight test, di samping tentu saja mengamati gerakan Phugoid pesawat dan fenomena2 lainnya.

So, rebo kemaren tanggal 9 November, gw pun pergi ke ruangan simulator kebanggaan ISAE yang diberi nama PEGASE, yang adalah singkatan dari Plateform for Experiments on Generic Aircraft Simulation Environment. Yes, Europe, they are very good in making cool abbreviation for something walaupun kalau dibaca, artinya rada2 aneh sampe bikin gw pengen ngemut jempol kaki gw.

Eniway, jadi rebo kemaren, tiap anak FTE dapet kesempatan buat ngejajal simulator tersebut. Adapun menunya adalah sebagai berikut. Pertama-tama, kita disuruh ngetrim pesawat, yang kurang lebih dalam bahasa tukang fotokopi artinya adalah ngeset gas-gasannya pesawat terbang sama ngeset settingan ekor horizontalnya supaya pesawat kita terbang level, ga naek, ga turun, dan ga inget2 mantan melulu. Bagian ini ga terlalu susah walaupun posisi trim final yang gw dapatkan ga bener2 level. Tapi gw cukup puas secara gw kalo naek vespa aj pindah giginya suka lemot. Setelah pesawat gw cukup ‘trimmed’, selanjutnya adalah narik stik pesawat ke atas supaya pesawat ngedongak, terus dilepas stiknya supaya pesawat bergoyang-goyang phugoid. Beres phugoid, menu selanjutnya adalah melakukan double step (injek pedal kiri, terus lepas, terus injek pedal kanan, terus lepas, naro tangan di pinggang, terus sajojo sajojo) supaya pesawat bergoyang-goyang ala orang Belanda alias Dutch roll.

Enam tahun gw belajar pesawat-pesawatan, tapi hingga postingan ini ditulis, gw masih ga tau kenapa gerakan pesawat yang meliuk2 ini disebut Dutch roll. Yang gw tau The Rock bakal jadi Mitch Buchannon di pelem Baywatch yang akan datang.

Satu hal yang diluar ekspektasi gw adalah ternyata mengalami Phugoid dan Dutch Roll ini bener2 bikin gw mual. Yes, mual mau muntah kaya ibu-ibu hamil. Padahal untuk ngehemat listrik, simulator PEGASE ini ga dinyalain hidrolik2annya alias diset statis. Ngeliat layarnya aj bikin gw mual dan terus terang, ini membuat gw berpikir untuk ngebawa kantong muntah untuk flight test gw yang berikut2nya. Cukup aneh dan ga disangka-sangka, secara pas gw live on board seminggu diombang-ambing di Pulau Komodo beberapa tahun yang lalu, gw sama sekali ga muntah.

Anyway, beres dari dutch rolling, sembari menahan mual gw, akhirnya gw pun sampai pada menu terakhir, yaitu nyoba landing, and oh my god, it is effing hard. Buat melakukan landing ini, gw harus ngeliat ke layar PFD buat ngeliat apakah gw menceng kiri atau menceng kanan atau terlalu ke atas atau terlalu ke bawah dari trayektori yang bener buat mendarat. Tapi di sisi laen, gw juga harus ngeliat layar ND buat ngeliat apakah pesawat gw ud sejajar dengan landasan. Di saat yang bersamaan, gw harus maenin joystick gw dan gas-gasan pesawat sambil ngecek posisi gw lewat dua layar tersebut. Saking ribetnya, resleting celana gw sampe kebuka sendiri dan jereng adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi mata gw saat itu.

In the end, setelah dengan sekuat tenaga ‘meluruskan’ pesawat dengan landasan dan ngegas ngerem pesawat, akhirnya gw dengan sukses berhasil mendaratkan pesawat gw 30meter sebelum runway, di atas rumput hijau yang bergoyang. Gw pun kecewa. Selama ini gw berpikir bahwa kemampuan mengendarai vespa itu ga ada hubungannya dengan kemampuan mengendarai kuda. Ternyata semua itu benar. Gw pun me-request Stephane sang pilot sekaligus tutor untuk sesi simulator ini untuk memberikan gw second chance untuk gw mencoba landing lagi, sayangnya ternyata antrian masih panjang dan gw pun akhirnya harus pulang dengan predikat si gagal mendarat. Yah, inilah gw, laki-laki yang  selalu gagal mendarat, baik itu di runway, maupun di hati para wanita.

Beres dari sesi simulator, gw pun pulang ke dorm dan ngemilin Nutella demi menghibur hati gw yang terluka.

Stepen – gagal mendarat

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | Leave a comment

Stepen di Toulouse Ep6: Flight Test Pertama

Gw baru aj beres nyelesein laporan flight test pertama gw dan secara gw masih punya waktu 1 jam sebelum jadwal tidur cantik gw sementara internet dorm mati for no apparent reason (I’am drafting this post offline in my word), gw pun memutuskan untuk menceritakan pengalaman fantastis gw sebagai seorang Flight Test Engineer (untuk selanjutnya akan disingkat FTE, biar keliatan lebih keren dan ga panjang ngetiknya). Mumpung lagi hot2-nya di kepala. Sebenernya flight test pertama gw ini ud dieksekusi sekitar tiga minggu yang lalu. Namun akibat terlalu banyak maen Overwatch, gw pun kelupaan terus buat ngupdate blog gaul gw ini. Tapi kalo mantan sih gw ga pernah lupa. Oke, lanjut…

Sebelum gw cerita lebih lanjut tentang pengalaman test flight, marilah terlebih dahulu kita memanjatkan doa kepada yang di atas gw ceritakan sedikit backstory gimana ceritanya gw sampe bisa ‘nyasar’ di jurusan yang gaul ini. Bayangkan kapten Tsubasa yang mau ngeshoot ke gawang musuh, terus tiba2 doi inget mantannya dan tiba-tiba langsung flashback, kira2 ini juga kaya begitu. (Ngomong apaan sih gw?)

Jadi, ceritanya kira2 setaon lalu, waktu gw masih di Jepang, gw memutuskan untuk resign dari kantor gw di Jepang dan kembali ke jalan yang benar: Dunia Penerbangan. Jujur sih, gw ada kepikiran untuk netep aj di Indonesia, kerja di either PTDI, RAI, BPPT, LAPAN, atau apapunlah itu yang maenannya sayap-sayapan. Tetapi karena gw yakin harus psikotes untuk apply dan gw alergi sama tes yang kertas koran nambah2in angka yang terbukti bikin mata gw keseleo, gw pun mengurungkan niat gw. Besides, gw ud terlanjur basah jadi expat, kenapa ga diterusin aj jadi expat lagi, biar bulu idung gw tambah panjang. So, I shifted my mind towards Europe and America (baca: Airbus and Boeing).

The thing is, umur gw ud terlalu tua buat apply masuk entry level dan gw ud terlanjur menghabiskan 4taon hidup gw di dunia hydroturbine, so middle entry application might not work out well for me. Thus, applying directly to a company directly is out of the question. Yang bisa gw lakukan untuk memperbesar chance gw adalah cari kuliah penerbangan dulu di luar negri terus baru apply ke perusahaan2 fantastis tersebut, if possible via internship first. Walaupun itu berarti gw kudu buang umur lagi dan juga duid, tapi gapapalah. I have always wanted to experience studying abroad anyway and it will be a good refresher for me yang ud 4 taon ga pernah nyentuh dunia penerbangan.

Jadi, taon lalu, gw pun berburu kampus sembari berburu jodoh. Jodoh ga dapet, tapi alhamdulilah, kampus sih dapet. Singkat cerita, pilihan gw jatuh ke ISAE di Perancis ini dan programnya adalah TAS Aero – option Flight Test Engineering. Gw sengaja milih program yang rada aneh ini karena dulu di ITB, gw ga pernah belajar yang namanya flight test. Jadi, instead of just buang waktu satu taon cuman buat ngulang pelajaran yang ud gw dapet di ITB, gw dapet ilmu baru walaupun mungkin terlalu spesifik bidang keahliannya. Tapi gapapa, yang penting pas orang nanya, keliatannya keren. Coba bayangkan adegan percakapan berikut ini di depan indomaret:

NPC: Eh, lo, anak mana lo?

S: Saya, bang?

NPC: Iy, elo, masa mak lo…

S: Saya anak mama, bang, tapi kalo kuliah sih di ISAE.

NPC: Oh, ISAE, jurusan apa?

S: Ambil FTE, bang…

NPC: FTE apaan?

S: Flight Test Engineering, bang…

NPC: Wih, keren yah, ini permen buat kamu satu…

S: Waduh, makasih, bang…

Fantastis, gw memang bakat jadi sutradara.

Okeh, kembali ke topik.

Jadi, di program FTE ini, gw bakal dapet 10-13 sesi flight test plus kuliah2 umum yang di kelas (Iya iylah, masa di WC). Yang menariknya di sini adalah, sebagai FTE, adalah salah satu tugas kita buat ‘nyuruh2’ pilot pas flight berlangsung. Yes, nyuruh2 pilot. Jadi, sebelum flight test, kita harus plan flightnya, briefing sang pilot, dan saat flight test, kita yang ngasih komando pilot. Jadi, let’s say, kita mau ngambil data untuk ketinggian sekian dan kecepatan sekian dan maneuver tertentu, kita harus nginstruksiin hal tersebut ke sang pilot. Sebenernya sih ga ada yang salah dengan hal ini dan wajar2 aj sih, tapi tetep berasa aj kurang ajar, nyuruh2 orang tua. Gw aj selama 28 taon idup di dunia ini ga pernah nyuruh2 nyokap gw sekalipun, kecuali nyuruh matiin lampu kamar gw karena gw ud males keluar dari kasur. Dan yang jadi concern gw adalah orang tua ini bukanlah orang tua biasa. He is a test pilot. Kalo menurut kalian pilot airline itu super gaul karena bisa nerbangin pesawat terbang, maka test pilot itu gaul kuadrat, karena biasanya yang doi terbangin adalah pesawat yang baru / belum tersertifikasi dan kadang maneuver yang harus dilakukan adalah maneuver yang berbahaya. Kalo gw jadi test pilot, pasti semua temen2 gw yang pilot2 airline ud abis gw cengcengin semua.

Okeh, cukup flashbacknya. Sekarang inti ceritanya.

Jadi tanggal 18 Oktober yang lalu, team gw, yang terdiri atas gw (Stepen), dua orang Perancis yang namanya sama2 Antoine, dan test pilot yang namanya Stephane tapi kalo dibaca Stepen juga, pun melaksanakan flight test pertama gw. Di flight test pertama ini, Antoine yang berperan sebagai FTE, sementara gw dan Antoine yang satu lagi duduk manis di kursi belakang buat ngerekam data sambil sesekali saling cubit lemak pinggang. Kita terbang dengan pesawat Socata TB-20 dengan nomer registrasi F-GSAO dan setelah kurang lebih 1 jam terbang dan mengambil data, kita pulang dan nulis laporan. Sekian dan terima kasih.

Stepen – bangga bisa nyuruh2 pilot

Posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse | 1 Comment