Omake: Kisah Nyata Seorang Jejaka yang Dipertemukan dengan Lelaki Impiannya di Negeri Bunga Sakura

Original Post by Dr. Sandra Pekcamkhee: Kisah Nyata; Seorang Gadis yang Dipertemukan dengan Lelaki Impiannya di Pedalaman Papua.

***

Saat keluarga besar saya mengetahui saya akan berangkat ke Kawasaki, Jepang untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Intelek), mayoritas reaksi mereka adalah kaget dan mulai menjejali pikiran saya dengan berbagai macam hal, dari yang bener sampe ke yang bener-bener ga bener.

“Di sana kan susah, mereka pakai tulisan kanji.”

“Di sana kan makanannya mahal semua, nanti kamu makin kurus.”

“Awas jangan keseringan beli Gundam.”

“Nanti kalo pulang ke Indo, jangan lupa bawain Sora Aoi yah.”

Kedengarannya memang absurd, tapi itulah kenyataannya. Saya sendiri tidak terlalu kuatir. Saya yakin Jepang sudah sangat berubah dan tidak seperti yang dibayangkan orang-orang. Sora Aoi, contohnya, udah ga jaman lagi. Sekarang yang lagi naik daun adalah Emiri Suzuhara atau Tsubasa Amami (bagi yang tidak mengerti siapa mereka, ada baiknya anda tidak menggoogle siapa mereka). Saya juga tidak terlalu sering beli Gundam di sana, hanya seminggu sekali dan harga-harga juga tidak terlalu mahal, jikalau kita mau menunggu makanan nyaris basi yang dijual menjelang supermarket mau tutup. Adapun justru yang menjadi kekuatiran utama adalah saya adalah pacar (yang sekarang sudah istri . . . . . . orang lain)

Bahkan saya juga bingung kenapa di postingan original, bagian ini dibikin semacam quote padahal harusnya nyambung aj dengan paragraph sebelumnya.

Saya tiba di Jepang bulan November 2012 dengan sekitar 10 TKI lainnya. Setibanya disana, kami diberi nomor seri dan dicap tapal kuda di bokong supaya ga ilang diambil orang. Saya pun berkenalan dengan salah satu TKi lainnya yang bernama Alvi (bukan nama sebenarnya). Dia lebih muda 2 tahun dari saya, lulusan salah satu universitas di Jogja yang kalah jauh sama ITB (peace, Vi :D). Kesan pertama saya tentang dy sangat baik. Penampilannya rapih dan orangnya ramah dan tidak marah jika saya colek bokongnya.

Ternyata kami sama2 beragama Blopiandihkan (Jomblo kesepian dan menyedihkan) dan suka naik gunung biar terlihat macho sama cewek. Alhasil, kamipun beberapa kali naek gunung bersama dia. Saya suka dengan dia, dia cerdas dan tidak kecentilan seperti saya. Saya pun tahu dia menyukai saya (Asek, pede). Sayangnya, kami mulai jarang bertemu karena jam lebur kami yang cukup intens. Saat saya berangkat ngantor, doi masih tidur, dan saat saya pulang kantor, doi masih ngantor. Alhasil, frekuensi pertemuan kami pun jadi berkurang. Dari pertemuan rutin setiap hari menjadi pertemuan mingguan yang itupun biasanya terjadi gara2 gw mau minta Indomi doi.

Sampai suatu hari dia memberikan saya makanan gratis yang doi salah beli dan tidak bisa makan karena mengandung senyawa TiPaTKaY. Di sanalah dia bertanya apakah saya mau makan makanan salah beli tersebut dan berharap untuk mengenal saya lebih jauh. Pasti tidak romantis buat sebagian orang, mau PDKT tapi malah ngasih makanan salah beli. Tapi bagi saya ini justru ekonomis sekali, ada berkah dalam kepelitan. Saya tidak langsung menjawab saat itu juga, memang saya suka makanan tersebut, tapi gengsi dong.

Saya tidak langsung menjawab iya karena gengsi dan harga diri saya yang sangat tinggi, namun semakin hari saya semakin melihat bahwa makanan2 tersebut nyaris kadaluarsa dan akhirnya saya mengiyakan tawaran doi. Dari sinilah hubungan hibah-menghibahkan makanan salah beli pun dimulai.

Sayangnya, hubungan hibah-menghibahkan kami di Jepang tidak seperti layaknya pasangan-pasangan lain di kota besar. Seperti yang saya ceritakan, makanan yang diberikan adalah makanan salah beli, jadi kalau Alvi ga salah beli makan, saya pun gagal makan gratis.

Tiga tahun kemudian, setelah gw pergi meninggalkan Jepang, Alvi pun kehilangan orang untuk dihibahkan makanan salah beli, namum akhirnya mendapatkan jodoh yang lebih soleha dari gw. Doi pun melepas status BloPianDihkan doi.

Jadi buat sahabat-sahabat pembaca setia blog absurd ini yang masih takut sulit dapat jodoh, ingatlah kisah saya. Optimislah bahwa kalian bisa dapat sumbangan makanan gratis darimanapun. Semoga berhasil!

Tulisan ini dipersembahkan untuk merayakan 1 tahun pernikahan mantan saya 17 Januari yang lalu.

***

Advertisements
This entry was posted in Indonesian Post, Omake, Personal Blog. Bookmark the permalink.

One Response to Omake: Kisah Nyata Seorang Jejaka yang Dipertemukan dengan Lelaki Impiannya di Negeri Bunga Sakura

  1. Sandra Pekchamkee says:

    Damn..omake lo yg ini sbnrnya menyedihkan loh..apalagi kalimat trakhir..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s