Omake: Curhatan Hati Kami Anak Penerbangan

Dulu, seorang teman cerita ke gw kalau doi mau nyoba nulis dan akhirnya gw pun mencoba memfasilitasi dengan memberikan doi akses untuk nulis di blog ini, yang followernya udah berjuta-juta. Alhasil, doi pun mempublish postingan pertama doi yang gw beri seri tersendiri berjudul Catatan Dokter Spesialis Malpraktek. Sayangnya baru nulis postingan introduction, doi hilang ga ada kabar kaya wanita2 lain pada umumnya setelah seminggu kenal sama gw dan akhirnya serial tersebut pun terbengkalai. Tiba-tiba, 2 tahun kemudian, which is hari ini, doi muncul kembali dan ternyata sudah eksis jadi seorang penulis di website ajubile yang namanya sama kaya bunyi orang cegukan: hipwee.

Gw selaku bos doi pun merasa dihianati dan gw merasa perlu untuk membalas dendam ke doi, karena doi dengan tidak tahu malunya meminta gw untuk men-share article doi. Sebagai sesama penulis, ini hinaan besar bagi gw. Bayangkan kalau anda pergi ke dokter gigi dan tiba-tiba sang dokter gigi make masker karena anda lupa gosok gigi. Pasti malu bukan?

Jadi, dalam rangka balas dendam dan bukan karena gw kehabisan ide untuk nulis di blog gw, maka gw memutuskan untuk membuat ‘omake’ dari setiap postingan doi di hipwee. Bagi yang ga tau apa itu omake, kurang lebih konsepnya sama kaya re-make lah. Hanya saja akan gw sesuaikan dengan kondisi gw instead of kondisi doi. Tentu saja untuk mencapai titik optimum kegaringan postingan ini, pembaca harus terlebih dahulu membaca postingan original doi, share postingan original doi di facebook, dan kemudian baca postingan versi omake gw sambil menyeruput Milo hangat.

So, without further ado here it is, the omake.

***

Original Post by Dr. San Cicongfan: Curahan Hati Kami, Anak Jurusan Kedokteran.

***

“Kuliah dimana, mbak, eh, mas?”

“Di ITB, bu, jurusan Teknik Penerbangan.”

“Oh, mau jadi pilot yah?”

“Bukan, bu, saya engineernya, yang bikin pesawatnya.”

“Oh, mau jadi kaya Habibie yah?”

“Ga, bu, cita-citanya sih mau jadi kaya Channing Tatum, tapi tampang beda tipis.”

Kira-kira demikianlah percakapan yang sering saya alami saat disamperin orang yang dari pakaian dekil saya langsung bisa menebak kalau saya ini mahasiswa rendahan. Sekali, dua kali mengalami percakapan seperti ini, saya masih bisa menanggapi dengan senyum manis, tapi setelah hampir tiap bulan mengalami percakapan seperti ini sekitar 34 kali (Ya, saya menghitung dengan seksama tiap kali percakapan seperti yang di atas terjadi), rasanya pengen lompat dari Grand Canyon sambil teriak “Cicongfan!”

Saya hampir selalu bisa menebak dengan tepat apa pertanyaan berikutnya yang akan disampaikan. Ingin rasanya saya merekam jawaban-jawaban saya dan memutarnya bila ada orang yang bertanya pertanyaan yang itu-itu lagi. Saya cukup yakin rekan-rekan sesama insinyur teknik penerbangan juga mengalami hal serupa. Yang lebih menjengkelkan, seringkali percakapan ini tidak hanya kami dapatkan dengan orang asing, tetapi bahkan ditanyakan oleh keluarga kami sendiri. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat kami seringkali mendapat cap sombong dari orang lain karena kami seakan-akan tidak tertarik untuk bicara dengan orang lain.

Setelah merenungkan dan menganalisa lebih lanjut mengapa percakapan serupa ini selalu terulang terus, saya menyimpulkan bahwa hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang jenjang pendidikan teknik penerbangan.

(Okeh, gw ngaku, 2 paragraph ini gw copas persis dari narasumber karena gw bingung mau diplesetin dimananya).

Pertama, yang perlu diketahui sebagai prinsip awal adalah bahwa insinyur teknik penerbangan berbeda dengan pilot. Mereka sejak awal sudah mengambil pendidikan yang berbeda. Insinyur kuliah di universitas, pilot sekolah di sekolah pilot, saya di rumah, nyuci baju. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan seorang pilot lanjut kuliah untuk jadi insinyur ataupun sebaliknya.

Pilot memiliki spesialisasinya sendiri dan insinyur teknik penerbangan pun demikian. Walaupun demikian, kalau sakit gigi, kedua profesi tersebut harus tetap pergi ke dokter gigi, bukan ke dokter umum, apalagi mantri sunat. (Okeh, gw garing).

Kedua, saya akan mejelaskan sistem pendidikan di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Bagian ini bakalan boring banget kaya postingan originalnya, jadi bagi kalian yang ga betahan, silahkan skip langsung ke bagian akhir.

Saya mulai kuliah teknik penerbangan tahun 2005, dengan status jomblo. Tahun 2009, saya lulus, masih dengan status jomblo. Tahun 2010  saya melepas status jomblo saya, namun 4 tahun kemudian saya harus meratapi nasib dan kembali berstatus jomblo. Berbeda dengan pilot, lulus dari sekolah, kami tidak memiliki pilot license. Jadi, kami bisa bekerja jadi apapun yang kami mau, mulai dari insinyur teknik penerbangan, MT di bank, sampe ke jadi pedagang jamu, tapi tidak bisa sebagai pilot. Beberapa sekolah di luar negeri, seperti sekolah saya saat ini di ISAE, memiliki fasilitas pelatihan yang memungkinkan muridnya untuk mengambil private pilot license yang mana sangat berguna untuk menambah perspektif kami sebagai insinyur. Walaupun demikian, untuk menjadi pilot airline, sekolahnya biasanya berbeda dan lebih spesifik.

Jadi, jika anda bertanya, saya menjawab saya kuliah teknik penerbangan, ketahuilah bahwa saya adalah bukan pilot. Jika saya menjawab saya tidak mau ikutan MLM, janganlah juga memaksa-maksa saya. Karena kata Tora Sudiro, lebih baik jadi gigolo daripada ikutan MLM.

Demikian penjelasan dari saya, semoga bisa mencerahkan sahabat-sahabat Hipwee sekalian. Sekali-sekali tanyalah kepada kami tentang hal-hal menarik dari profesi atau suka duka kami menjadi insinyur teknik penerbangan, daripada hanya bertanya pertanyaan yang mainstream dan membosankan. Mohon jangan menyalahkan kami juga jika saat itu baru terjadi kecelakaan pesawat karena most likely we have nothing to do with it. Instead, you can ask yourself why you abuse the overhead cabin luggage or why you can’t wait until the airplane is completely stopped and the seat belt sign is off before getting off your seat :D.

Kami sebenarnya sama dengan kalian. Sama-sama bertanggung jawab di bidang masing-masing, lalu mengemban amanah dari orang tua serta masa depan diri sendiri. Please, jangan menganggap kami ini istimewa, karena kami memang tidak istimewa. Gaji kami jauh lebih kecil dibandingkan pilot dan kami kemana2 tidak dikelilingi pramugari yang dasternya sobek sampe pangkal paha. Walaupun demikian, we will do it anyway because we think it is the second most awesome job in the world, right after baby panda caretaker.

***

Okeh… Demikianlah kira2 postingan gw. Terima kasih kepada San2 atas penghianatannya dan semoga sukses berkarir di situs yang namanya sama sama kaya bunyi orang cegukan.

Advertisements
This entry was posted in Indonesian Post, Omake, Personal Blog. Bookmark the permalink.

One Response to Omake: Curhatan Hati Kami Anak Penerbangan

  1. Sansan -the original writer- says:

    Hinaaa!! Lo pasti mau dompleng kepopuleran artikel gw..fyi ada yg lupa kata ‘dokter’ yg kelewatan lo ganti gara2 copy paste!! I cannot accept this!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s