Stepen di Toulouse Ep7: Balas Dendam Pilot

Di episode 6, gw dengan bangga menceritakan ke kalian semua bahwa sebagai FTE, adalah tugas gw buat nyuruh2 pilot. Klo ibaratnya lagu anak-anak, gw sebagai FTE tu kira-kira seperti duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya. Apparently, supaya para FTE ini ga gede rasa, program studi gw memutuskan untuk memberikan gw (dan anak2 FTE laennya) satu sesi dengan simulator kampus. Adapun tujuan dari sesi simulator ini adalah untuk membenamkan ego kami sedalam-dalamnya agar kami tau seberapa sulit perkerjaan pilot untuk melakukan ‘stabilization’ dan manuver2 laennya saat flight test, di samping tentu saja mengamati gerakan Phugoid pesawat dan fenomena2 lainnya.

So, rebo kemaren tanggal 9 November, gw pun pergi ke ruangan simulator kebanggaan ISAE yang diberi nama PEGASE, yang adalah singkatan dari Plateform for Experiments on Generic Aircraft Simulation Environment. Yes, Europe, they are very good in making cool abbreviation for something walaupun kalau dibaca, artinya rada2 aneh sampe bikin gw pengen ngemut jempol kaki gw.

Eniway, jadi rebo kemaren, tiap anak FTE dapet kesempatan buat ngejajal simulator tersebut. Adapun menunya adalah sebagai berikut. Pertama-tama, kita disuruh ngetrim pesawat, yang kurang lebih dalam bahasa tukang fotokopi artinya adalah ngeset gas-gasannya pesawat terbang sama ngeset settingan ekor horizontalnya supaya pesawat kita terbang level, ga naek, ga turun, dan ga inget2 mantan melulu. Bagian ini ga terlalu susah walaupun posisi trim final yang gw dapatkan ga bener2 level. Tapi gw cukup puas secara gw kalo naek vespa aj pindah giginya suka lemot. Setelah pesawat gw cukup ‘trimmed’, selanjutnya adalah narik stik pesawat ke atas supaya pesawat ngedongak, terus dilepas stiknya supaya pesawat bergoyang-goyang phugoid. Beres phugoid, menu selanjutnya adalah melakukan double step (injek pedal kiri, terus lepas, terus injek pedal kanan, terus lepas, naro tangan di pinggang, terus sajojo sajojo) supaya pesawat bergoyang-goyang ala orang Belanda alias Dutch roll.

Enam tahun gw belajar pesawat-pesawatan, tapi hingga postingan ini ditulis, gw masih ga tau kenapa gerakan pesawat yang meliuk2 ini disebut Dutch roll. Yang gw tau The Rock bakal jadi Mitch Buchannon di pelem Baywatch yang akan datang.

Satu hal yang diluar ekspektasi gw adalah ternyata mengalami Phugoid dan Dutch Roll ini bener2 bikin gw mual. Yes, mual mau muntah kaya ibu-ibu hamil. Padahal untuk ngehemat listrik, simulator PEGASE ini ga dinyalain hidrolik2annya alias diset statis. Ngeliat layarnya aj bikin gw mual dan terus terang, ini membuat gw berpikir untuk ngebawa kantong muntah untuk flight test gw yang berikut2nya. Cukup aneh dan ga disangka-sangka, secara pas gw live on board seminggu diombang-ambing di Pulau Komodo beberapa tahun yang lalu, gw sama sekali ga muntah.

Anyway, beres dari dutch rolling, sembari menahan mual gw, akhirnya gw pun sampai pada menu terakhir, yaitu nyoba landing, and oh my god, it is effing hard. Buat melakukan landing ini, gw harus ngeliat ke layar PFD buat ngeliat apakah gw menceng kiri atau menceng kanan atau terlalu ke atas atau terlalu ke bawah dari trayektori yang bener buat mendarat. Tapi di sisi laen, gw juga harus ngeliat layar ND buat ngeliat apakah pesawat gw ud sejajar dengan landasan. Di saat yang bersamaan, gw harus maenin joystick gw dan gas-gasan pesawat sambil ngecek posisi gw lewat dua layar tersebut. Saking ribetnya, resleting celana gw sampe kebuka sendiri dan jereng adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi mata gw saat itu.

In the end, setelah dengan sekuat tenaga ‘meluruskan’ pesawat dengan landasan dan ngegas ngerem pesawat, akhirnya gw dengan sukses berhasil mendaratkan pesawat gw 30meter sebelum runway, di atas rumput hijau yang bergoyang. Gw pun kecewa. Selama ini gw berpikir bahwa kemampuan mengendarai vespa itu ga ada hubungannya dengan kemampuan mengendarai kuda. Ternyata semua itu benar. Gw pun me-request Stephane sang pilot sekaligus tutor untuk sesi simulator ini untuk memberikan gw second chance untuk gw mencoba landing lagi, sayangnya ternyata antrian masih panjang dan gw pun akhirnya harus pulang dengan predikat si gagal mendarat. Yah, inilah gw, laki-laki yang  selalu gagal mendarat, baik itu di runway, maupun di hati para wanita.

Beres dari sesi simulator, gw pun pulang ke dorm dan ngemilin Nutella demi menghibur hati gw yang terluka.

Stepen – gagal mendarat

Advertisements
This entry was posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s