Stepen di Toulouse Ep 1 (alt): Patah Hati Jelang Keberangkatan

Postingan ini adalah postingan alternate dari postingan Stepen di Toulouse Ep 1. Sama seperti postingan original yg gw sebutkan di atas: postingan ini adalah postingan trilingual yang gw buat demi memamerkan kehebatan gw dalam membuang-buang waktu menulis hal yang tidak ada gunanya. Klik tautan berikut untuk Stepen in Toulouse Ep 1 (alt) versi bahasa Inggris dan klik tautan berikut untuk Stepen à Toulouse Ep 1 (alt) versi bahasa Perancis. Oke, cukup penjelasannya, mari kita mulai.

Nama gw Stepen, tinggi 170an, berat 65an, BMI 20an, perut hampir sixpack (kalo dibayangin). Sejak masih kuliah di ITB dan dikira orang pengen jadi pilot, gw selalu memimpikan untuk bisa kuliah di ISAE Perancis, terus lanjut kerja di Eropa demi mencari duid sebanyak2nya dan mengharumkan nama bangsa. Sayangnya, dengan adanya berbagai situasi dan kendala, gw baru punya kesempatan untuk berkulih di ISAE tahun ini.

Secara ini adalah sebuah impian yang ud gw tunggu2 sejak lama, dan secara gw ini mengidap OCD akut, it is within my nature to overprepare everything. Dan, akhirnya, walaupun kuliah gw di Perancis ini dilakukan dengan bahasa Inggris, 3 bulan yang lalu, gw memutuskan untuk belajar bahasa Perancis di IFI Thamrin. Gw mengambil kelas Super Intensif di sana dan dengan tekun, fokus, dan tanpa distraksi, belajar Perancis dengan tekun sampai akhirnya kena osteoporosis. Tapi semuanya berubah sehabis libur lebaran.

Yes, selepas lebaran, terjadi pergantian guru. Salah seorang dari 2 guru yang mengajar kelas gw harus pindah mengajar di kelas sebelah yang kehilangan gurunya. Alhasil, gw pun mendapatkan guru baru, seorang wanita muda, cantik, dan berbakat yang namanya dalam hampir semua bahasa di muka bumi ini berarti narsis moto diri sendiri. Bukan, namanya bukan Selfie. Suer, percayalah.

Saat doi masuk kelas gw untuk pertama kalinya, gw inget banget, gw melihat doi membuka pintu kelas dan seketika waktu berjalan lambat, bunga sakura berguguran, dan musik India pun berkumandang di telinga gw. Yes, gw jatuh cinta, pada pandangan pertama. Dan gw pun langsung lari ke WC buat joged Kuchi-kuchi-hootahey.

Sejak doi mengajar, kehidupan gw pun berubah. Gw jadi lebih ceria dan genit. Gw mulai mengirimkan kode kode keras ke doi selama perjalanan dan lewat tugas-tugas karangan gw. Bahkan, di saat hari terakhir gw belajar di IFI, gw dengan romantis mengajak doi untuk pergi bersama gw ke Perancis. Sayangnya, doi minta gw buat ngebayarin pergi ke Perancis dan gw ga ada duid secara gw sendiri dibiayai negara #lpdp #pamerdulu. Alhasil, cinta kita pun kandas terhalang masalah materi.

Sejak saat itu, gw pun belum pernah ketemu doi lagi walaupun setiap hari masih suka ngestalkingin facebook doi. Walaupun begitu, gw tidak akan pernah menyerah. Gw akan terus menunggu sampe doi punya duid buat ngebayarin gw ke Perancis di kemudian hari. Yes, karena adalah tugas wanita untuk menafkahi suaminya.

Stepen – lelaki yang menunggu

Advertisements
This entry was posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s