Stepen di Toulouse Ep 2: Jam Menunjukkan

Ini adalah postingan trilingual (asek). Klik tautan berikut untuk Stepen in Toulouse Ep 2 versi bahasa Inggris dan tautan berikut untuk Stepen en Toulouse Ep 2 versi bahasa Perancis.

22 Agustus 2016…

Jam menunjukkan pukul 15 lebih beberapa menit. Aku pun melangkahkan kakiku menuju pintu masuk terminal 2E. Sembari mendorong troliku yang terlalu berat, aku mengeluarkan HP Samsung warisan sang ayah dari kantongku, berusaha untuk menampilkan e-tiketku di layar. Ceroboh, akupun menjatuhkan HPku, menarik pandangan semua orang kepadaku. Dengan perlahan, akupun membungkukkan badanku, mencoba untuk meraih HPku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku menahan bajuku agar bulu dadaku tak terlihat saat membungkuk. Tak lama, akupun meraih HPku dan dengan cepat menunjukkan e-tiketku kepada petugas penjaga. Tak lama, iapun membiarkanku masuk.

Jam menunjukkan pukul 15 lewat 45 menit. Masih ada 3 orang lagi di depanku: sepasang kekasih muda dan seorang laki-laki separuh baya dengan topi koboi. Sejenak, perhatianku kembali teralih pada troli bawaanku dan akupun mulai was-was mengingat bahwa total panjang+lebar+tinggi dari salah satu tas bawaanku adalah 158cm atau tepat sama dengan dimensi maksimum checked baggage yang diperbolehkan. Aku hanya berharap petugas check-in tidak akan mendeclare tas tersebut sebagai oversized baggage karena itu akan membuatku lebih miskin 300USD.

Jam menunjukkan pukul 17 lewat 5 menit. Aku sekali lagi melangkahkan kakiku memasuki pintu terminal 2E setelah tadi keluar lagi setelah melakukan check-in baggage. Secara samar aku mendengar tangisan para wanita di belakangku, seolah mencoba untuk menghentikan kepergianku dengan air mata mereka. Namun, tidak, mereka tidak bisa menghentikanku. Sudah 4 tahun lamanya aku menunggu kesempatan ini. Namun aku sadar, akan sangat dingin bila aku meninggalkan wanita-wanita ini begitu saja. Akuoun menghentikan langkahku sejenak, membalikkan kepalaku ke arah mereka, lalu memberikan senyuman terakhirku kepada mereka. Mereka membalasnya dengan melambaikan sekali lagi tangan mereka dan aku pun membalikkan kepalaku sekali lagi ke depan lalu ngupil. Sudah lama gatalnya.

Jam menunjukkan pukul 21 kurang beberapa menit. Aku melepas headsetku dan mematikan layar inflight entertainment yang tengah menunjukkan credit roll dari film animasi berjudul Turbo, yang menceritakan tentang seorang siput yang ingin menjadi pembalap. Sejenak aku menatap ke luar jendela. Gelap dan tidak kelihatan apa-apa dan akupun tiba-tiba ingin pipis. Akupun menoleh ke sebelah kiriku, ke arah sepasang kekasih yang duduk menghalangi jalanku ke aisle. Maksud hatiku ingin meminta permisi keluar ke toilet, namun melihat mereka yang tengah bercumbu mesra, akupun mengurungkan niatku. Masih bisa kutahan, pikirku.

Jam menunjukkan pukul 23 kurang beberapa menit. Aku melepas headsetku dan mematikan layar inflight emtertainment yang tengah menunjukkan credit roll dari film komedi Daddy’s Home, yang dibintangi Will Ferrell dan Mark Walhberg yang sebelumnya juga pernah berkolaborasi bersama dalam film The Other Guys. Sekali lagi aku menatap ke luar jendela. Masih gelap dan tidak kelihatan apa-apa dan seketika hasrat ingin pipis pun kembali mengetuk pintu, seolah mengingatkanku akan hutang yang belum aku lunasi. Terpaksa, aku pun menoleh ke arah sepasang kekasih di sebelah kiriku. Kini mereka tengah saling mengulum bibir masing-masing, seolah mereka sudah 5 hari belum makan. Dengan sadar, akupun mengatakan pada diriku sendiri: “Dont look, dont look, dont look”. Tapi penasaran, gimana dong? Dan akupun sekali lagi mengurungkan niatku untuk pipis. Masih bisalah ditahan, pikirku lagi.

Jam menunjukkan pukul 23 lewat 15 menit. Gerbang pintu air Manggarai telah terisi penuh, namun masih belum dapat dibuka. Pasangan kekasih tersebut masih terus bercumbu mesra, saling cium diselingi gelitik-gelitik mesra, seolah dunia ini milik mereka berdua, seolah tidak ada lelaki di sebelah kanan mereka yang sedang menahan pipisnya. Aku pun membuka kantung snack kacang yang kuterima dari pramugari 1 jam yang lalu dan memakan kacang tersebut, berharap kacang yang kumakan bisa menyerap air-air berlebih dalam tubuhku yang menyebabkan hasrat ingin pipis ini. Sedikit lagi, Stepen, bertahanlah, pikirku.

Jam menunjukkan pukul 23 lewat 17 menit. Pintu air Manggarai hampir bocor dan meledak, namun masih juga belum dapat dibuka. Mereka masih menempel satu dengan yang lainnya, seolah dengan sengaja menghalangi jalanku ke lavatory.

Jam menunjukkan pukul 23 lewat 18. Kini tiap detik terasa sangat lambat. Aku memperhatikan gerakan jarum detik dari arloji di tangan kiriku yang kugambar sendiri dengan stabilo. Jarum detik tersebut tidak bergerak sama sekali, seakan aku sedang menghentikan waktu. Aku pun merasakan gejolak yang sangat hebat, sangat hebat, dan tak tertahankan. Dan akupun berdiri, melompati pasangan kekasih tersebut dengan salto berputar 3x di udara, mendarat di aisle, dan langsung bergegas ke arah lavatory, hanya untuk mendapati adanya antrian panjang di depan lavatory yang hanya ada 2. Mama sayange…

Stepen – lelaki yang sabar

Advertisements
This entry was posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog, Stepen in Toulouse. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s