Cerita Mudik Ep. 2: Cerita Tivi Part 1

Oke, bagi kalian pembaca setia blog gw (maksud gw, elo, Ja, iya, elo, siapa lagi?), kalian mungkin bingung kok cerita mudik episode 2-nya tentang teve, padahal Cerita Mudik Ep. 1: Cerita Kulkas Part 1-nya tentang kulkas? Well, yah, alasannya simple, karena sampe saat ini gw belon sempet nelpon recycle center tentang cara ngebuang kulkas yang baik dan benar, jadi yawdalah, biar ga mubajir waktu dan pikiran gw, bolehlah gw nulis tentang tivi dulu, secara cerita ini lagi hot2nya.

Cerita tentang tivi ini berawal dari kurang lebih 1-2bulanan yang lalu. Waktu itu, gw dan Alvi diundang Reja untuk bersilahturahmi (baca: makan gratis) ke rumah baru doi. Waktu itu, Melon (Yes, ini bukan nama samaran tapi ini nama asli orangnya. Doi lebih suka dipanggi Fab yang adalah kependekan dari Fabolous, tapi nama asli doi adalah Melon. Ga percaya? Oke, berikut gw lampirkan KTP beliau dengan muka yang disensor demi kenyamanan pribadi) juga diundang ke acara silahturahmi gede-gedean ini dan doi pun memutuskan untuk pamer maenan baru doi: Wii-U. Alhasil, di hari silahturahmi itu, Melon dateng dengan membawa Wii-U-nya.

KTP Melon, dengan modifikasi seperlunya demi keamanan identitas ybs.

Reja, yang selama ini cuman maen Neko Atsume aj senengnya ud jumpalitan, pun welcome2 aj Melon bawa Wii-U-nya dan akhirnya maenan tersebut pun dipasang di ruang tamu doi dan semua bermain dengan gembira. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya gw dan Alvi dateng dan tibalah giliran gw buat maen (baca: membuktikan status gw sebagai seorang hardcore gamer di depan anak2 bau kencur kemarin sore pagi ini siang malem).

Gw pun maen dan gw kalah, yes, gw yang seorang hardcore gamer ini dikalahkan anak2 bau kencur kemarin sore pagi ini siang malem. Namun gw selaku hardcore gamer lantas ga tinggal diam begitu saja. Gw pun mojok dan merenung dan mencoba untuk mengevaluasi dan mencari sebab penyebab kekalahan gw dari anak2 bau kencur kemaren sore pagi ini siang malem (cape yah ngetik ini terus2an). Setelah riset yang panjang dengan kurang lebih 5paper terbit di jurnal internasional dengan impact factor di atas 3, gw pun mendapat kesimpulannya: gw kalah karena ukuran TV Reja kekecilan.

Yes, gw butuh tivi yang lebih besar untuk bisa memproses informasi karena luas penampang bukaan indera penglihatan gw di bawah rata2 (bahasa ilmiahnya: sipit). Ukuran TV Reja saat itu tidak memenuhi standar SNI untuk permainan macem Wii-U yang mana layar TVnya dibagi 4 sama panjang sama rata sama rasa karena yg maen 4 orang. Alhasil, gw yang mendapat handicap ini pun harus menelan kekalahan dari anak2 bau kencur kemaren sore pagi ini siang malem.

Okeh, begitulah scientific excuse gw.

Walaupun begitu, pengkritik yang baik adalah orang yang tidak hanya mengkritik, tapi juga memberikan solusi. Jadi, gw pun menawarkan solusi untuk mengatasi TV Reja yang kekecilan ini: menawarkan TV gw untuk dihibahkan ke Reja. Sekalian ngebantu temen, sekalian juga ngosongin kamar secara gw mau keluar dari dorm. Genius, gw memuji diri gw sendiri. Sayangnya gw lupa satu hal yang sangat penting: ukuran tivi gw TIDAK lebih besar dari ukuran tivi Reja. Yang lebih odongnya, Reja yang notabenenya juga sering ke kamar gw dan tentunya ngeliat TV gw juga ga sadar kalo tivi gw TIDAK lebih besar dari tivi Reja. Maklum, banyaknya jam lembur telah mengikis sel-sel otak kita berdua.

Alhasil, beberapa minggu kemudian setelah silahturahmi tersebut, gantian Reja yang dateng ke dorm gw buat ngambil tivi dan di saat itulah Reja dan gw sadar kalo tivi gw TIDAK lebih besar dari tivi Reja. Alhasil, Reja pun lemas letih lesu dan memutuskan untuk menolak tivi gratis dari gw karena ukurannya yang tidak seberapa. Tragis, mau ngasih barang gratis aj ditolak, apalagi nyari pacar (curcol).

Eniwei, dengan penolakan ini, gw pun harus mencari alternatif tumbal yang mau gw kasihin tivi gw ini dan setelah promosi dan pasang iklan sana sini, akhirnya gw memutuskan buat menghibahkan tivi gw ke Dea, seorang wanita muda berparas kuda yang suka meluda dan menggoda duda (asek ga pantun gw). Tapi again, cerita transaksi serah terima tivi dengan Dea harus gw ceritakan di episode berikutnya karena hingga episode ini diturunkan, serah terima belum dilakukan karena doi sibuk ngegym dan gw sekarang harus badminton demi kebugaran jasmani (baca: ga punya rencana jalan2 di long weekend yang indah ini).

Stepen – Hardcore Gamer

Advertisements
This entry was posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s