Kesengsem

Gw adalah orang yang mengklaim dirinya sendiri sebagai seorang petualang dan selalu berusaha bergaya tough (baca: taff) supaya orang2 mengira gw adalah seorang petualang, walaupun dari segi kekuatan fisik, gw ga berbeda jauh dengan lemper. Dan, akibat doktrinasi gw pada diri gw sendiri, orientasi seksual gw pun berubah. Yes, tadinya gw suka sama cewe feminim dan manis, sekarang entah kenapa gw lebih prefer perempuan tough (baca: taff). Yes, cewe yang suka bertualang, ga takut kotor (karena kalo ga kotor ga belajar), suka olahraga, dan yang paling penting: kalo masak indomi 2 bungkus, bumbunya dipake 22nya, ga kaya nyokap gw yang cuman makein 1 bungkus dan satu bungkus yang satu lagi dibuang. (Hambar tau, ma!)

Cilakanya, ada 2 masalah yang sangat mendasar dengan preferensi cewe gw. Masalah yang pertama adalah gw bukan orang bisa pilih2 tipe cewe yang gw suka secara nyari cewe yang suka gw aj susahnya minta ampun. Masalah yang kedua adalah tipe cewe tough (baca:taff) preferensi gw itu saat ini sangatlah langka. Menurut data terbaru dari Komisi Curcol Nasional, cewe tough (baca: taff) ini jumlahnya kurang dari jumlah populasi Panda di dunia alias sangat langka. So, gw pun pasrah dan memutuskan untuk berhenti mengejar wanita dan memilih untuk mengejar cita2 gw: mencapai level 100 di game Path of Exile.

Tapi memang dasar pucuk di cinta, ulam pun tiba, cinta pun datang tanpa permisi. Yes, dan ini adalah cerita gw yang baru saja kesengsem sama seorang wanita tough (baca: taff) tanpa gw sangka-sangka yang BNS (berakhir ngenes seketika). And here is the story for your laughing pleasure.

Jadi ceritanya kemaren di kantor, gw hima (Hima adalah bahasa jepang untuk suatu keadaan dimana elo punya byk banget kerjaan, tapi motivasi elo buat ngerjain tugas tersebut nol besar), dan gw pun iseng ngimel ngajak anak2 global buat kojin voli sabtu ini (Yes, sabtu ini, kemaren). Dari imel tersebut, beberapa org tertarik buat ikut dan salah satunya adalah seorang wanita bernama Ningsih (bukan nama sebenarnya). Sebenernya gw ud ketemu Ningsih sebelumnya pas nimbrung voli anak2 Filipin, tapi waktu itu, gw ga sempet ngobrol sama doi, jadi saat itu belum ada rasa apa2 (Asek, gw ganteng!). So, doi ngebales imel gw, bilang klo doi pengen ikut dan gw welcome.

Fast forward ke hari berikutnya, which is kemaren, gw pun dateng ke Tsurumi Sport Center buat kojin voli dan setelah ga lama nunggu, Ningsih pun dateng. Secara bocah2 yang laennya telat, gw pun ngajak doi ngobrol untuk mencairkan suasana. Obrolan berjalan dengan biasa sampe pada akhirnya gw dengan super casual tanpa pake idung kembang kempis bertanya:

“Ke sini jalan kaki?”

Doi menjawab:
“Enggak, naek sepeda.”

Gw pun nanya lagi:
“Dari lembah berkuil?”

Doi pun menjawab lagi:
“Oh enggak, gw dari tengah prefektur, ud ga tinggal di lembah berkuil lagi.”

Dan seketika angin berhembus menerbangkan rambut Ningsih dalam gerakan slow motion diiringi dengan lagu “Inikah Namanya Cinta”-nya M.E.

Cewe ini naek sepeda dari tengah prefektur sampe Tsurumi Sport Center. Di tengah musim dingin kaya gini selama 2 jam ngegenjot sepeda, apalagi namanya kalo bukan cewe tough (baca: taff). Dan seketika gw pun K3 (kepincut, kesengsem, dan kelilipan). Gw langsung berkata dalam hati gw: “Gw harus menikahi cewe ini”. Gw yang tadinya biasa pun jadi malu2 kucing dan langsung berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasrat ingin tepe dan ingin caper. Fantastis. And as the consequences, gw yang tadinya maen voli ini demi lucu2an aj jadi termotivasi dan bertekad untuk tampil impresif dan submisif untuk memikat Ningsih. Sayangnya semua tidak berjalan sesuai rencana gw.

Di paruh pertama permainan voli ini, gw dengan sukses melakukan positioning yang ciamik saat defense. Yang gw maksud positioning adalah mencari posisi strategis yang ga akan disamperin bola. Prinsip gw adalah you can’t do any mistake if you didn’t need to do anything. Brilliant! Sayangnya ide brilian gw ga bertahan lama. Satu kali bola datang ke arah gw, gagal gw receive dan gw pun dengan sukses ditandain sebagai kelemahan tim. Bola pun mulai berdateng ke arah gw dan gw dengan sukses menghancurkan image gw sebagai seorang laki2 tough (baca: taff). Klo cuman itu doang sih masih mending. Yang lebih parahnya, ada saatnya gw melakukan miss receive beberapa kali berturut-turut sampe akhirnya Ningsih yang posisinya di sebelah gw menawarkan dirinya buat mengkover posisi gw saat defense biar gw bisa minum kopi di pinggir lapangan. Image gw sebagai cowo tough (baca: taff) pun hancur berkeping2, terinjak2, dan akhirnya disedot sama vacuum cleaner.

Kini, gw pun dalam keadaan mental yang oleh para ahli psikologis disebut ‘bercampur-aduk’. Di satu sisi, gw kesengsem sama Ningsih, tapi di sisi laen, doi lebih tough (baca: taff) dari gw dan image gw di mata doi adalah lemah seperti lemper (Tradmark Stepen). Alhasil, di malam minggu yang indah ini, gw pun pergi ke kamar Alvi untuk menulis postingan ini sekalian bantuin doi ngabisin snack doi yang hampir kadaluarsa.

Ah, cinta, sejak dulu memang beginilah cinta, deritanya tiada pernaah berakhir.

Stepen – Fanboy Ti Pat Kay

Advertisements
This entry was posted in Indonesian Post, Kisah Hidup Stepen OjoNgono, Personal Blog. Bookmark the permalink.

One Response to Kesengsem

  1. Hicha Aquino says:

    Kan dia jadi melengkapi kelemahan lo, pen.. :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s