The Aero Girls – Chapter One

Inez’s Story – The guy that keep me waiting

***

Sinar matahari yang terang mulai memasuki kamarku lewat sela-sela gorden. Alarm HP-ku sudah berbunyi lebih dari 10 kali, namun badan ini tetap tak ingin beranjak dari kasur. Dengan mata setengah terpejam, aku meraih HP-ku, mematikan alarmnya, lalu bangkit sekuat tenaga dan berpindah ke kursi. Aku melihat waktu yang ditunjukkan laptopku yang kubiarkan menyala semalaman. Jam 12.30. Aku sudah tidur hampir 18 jam. Menyadari jam tidurku yang sudah terlalu banyak, akupun terpaksa bangkit dan beranjak ke kamar mandi.

***

Aku memasuki kamarku sambil mengeringkan rambutku yang masih basah. Sebelum aku sempat duduk, sebuah sms datang dan membuat HP-ku berdering. Aku mengambil HP-ku yang masih tergeletak di atas kasur dan membaca sms itu. Sms dari Jay.

Jay adalah teman dekatku. Kami berkenalan 4 tahun yang lalu. Ketika itu, kami masih sama-sama tingkat satu di Universitas Bandung Bermartabat dan kami satu kelompok orientasi kampus. Saat itu adalah neraka. Siksaan dari para senior dalam orientasi, para asisten dalam praktikum, dan para dosen dalam kuliah, semuanya hampir membuatku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Yah, mungkin saja, jika saat itu aku tidak bertemu Jay.

Hingga kini, kami sangat dekat walaupun berbeda jurusan. Mungkin karena kebersamaan yang kami lewati ketika masa orientasi. Namun sayangnya, kini keadaannya tidak seindah dulu.

Aku memalingkan pikiranku sejenak dari nostalgiaku dan membaca sms itu.

“Nez, kamu hari ini ada kerjaan? Jalan yuk!”

 Aku tersenyum sejenak. Tadinya, aku menyangka bahwa aku akan menghabiskan malam mingguku di depan laptop, menonton ulang drama-drama jepang yang kusukai sambil menghabiskan snak-snak yang telah kubeli kemarin. Namun ternyata tidak.

***

Aku kembali melihat jam tanganku. Masih jam 16.30, masih ada setengah jam lagi. Aku melihat sekeliling sambil meneguk coklat dingin yang kupesan. Tak sengaja, aku memalingkan pandanganku kepada anak kecil yang berjalan sambil menggenggam erat balon di tangan kanannya. Akupun teringat akan kejadian 4 tahun lalu, tepat ketika UAS telah berakhir.

Saat itu, aku bersama teman-teman kelompok orientasiku datang ke mall ini, melepas penat setelah UAS. Kami bermaksud untuk bersenang-senang, namun aku tidak dapat mengalihkan pikiranku dari ujian Kalkulus. Aku merasa bahwa aku melakukan banyak kesalahan dalam ujian dan aku sangat takut tidak lulus. Akhirnya aku memisahkan diri dari teman-teman agar tidak merusak mood mereka.

Aku mengasingkan diriku ke salah satu bangku di pelantaran mall dan mengutuk diriku sendiri. Saat itulah, Jay datang menghampiriku, membawa balon berwarna biru muda, warna kesukaanku, dan mencoba menyemangati diriku dengan balon itu. Sekarang, balon itu masih kusimpan di pojok kamarku dan selalu kutiup setiap kali balon itu mulai menyusut.

Yah, aku rasa sejak saat itu kami menjadi sangat dekat. Kami melakukan segalanya berdua. Curhat, nonton bioskop, makan, bikin tugas, dan hal-hal kecil lainnya. Akupun mulai berpikir bahwa kami lebih dari sekedar teman. Setidaknya itulah yang dikatakan anak-anak tentang kami. Sayangnya tidak. Kami hanyalah teman saja, mungkin teman yang sangat dekat. Kami bukanlah sepasang kekasih seperti yang dikisahkan di novel-novel remaja. Hubungan kami hanya sebatas teman saja, tidak kurang tidak lebih, setidaknya untuk 4 tahun terakhir ini, karena hari ini mungkin saja semuanya berubah.

Sebelum aku tenggelam lebih dalam dalam lamunanku, aku meneguk habis minumanku dan beranjak ke toko buku, tempat yang kami janjikan. Aku berjalan sambil berharap, bahwa semuanya akan berubah hari ini.

~fin~

Advertisements
This entry was posted in Fiction, Indonesian Post, Personal Blog and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to The Aero Girls – Chapter One

  1. linkse says:

    kok ~fin~ sih, belum niy, belum klimaks,,, Hahahaha.. I ll tell others to read! wkwkwkwk

    Like

  2. patricia says:

    pen….alurnya msh dtr..blm ada puncaknya…..yg katanya di lantai 8 mana?
    haha…btw, bnran si inez msh punya tuh balon? hooo..pantesan kalo diajakin jalan kdng susah…niupin balon dl yah..haha

    Like

  3. riki nindya says:

    “semuanya hampir membuatku memutuskan untuk mengakhiri hidupku”
    yang bener aja lu pen??hahahahahah….
    ntar kan masih ada lanjutan cerita inez ling..
    hahaha..
    ini masih season 1 episode 1…=)

    Like

  4. linkse says:

    kategorinya dooonk : cerita serius 😀
    Ntar kalo udah jadi gw cariin publisher pen, wkwkwkwk
    Lanjutkan!

    Like

  5. hicha says:

    Yaiiikssss!!! bahasanya jijay bajay!!
    wueeekkkss… mo muntah gw… 😛

    Like

  6. chella kerennian says:

    Ternyata begini toh kerjaan mahsiswa perguruan tinggi “bermatabat di Bandung..”
    Dear galz,Ati2 di zolimin ma c maling kancut…ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ “̮..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s